Laporan Tumbuhan Air
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kali biru merupakan perairan yang berada di Kecematan Abeli Kota Kendari. Perairan ini merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi sumber daya hayati. Daerah tersebut mempunyai sumber daya pesisir yang meliputi ekosistem mangrove, lamun, dan karang yang memberikan manfaat bagi kehidupan ekologi bagi organisme laut untuk berkembang biak dengan baik (La untu & Mustafa, 2017).
Tumbuhan air merupakan tumbuhan yang mampu beradaptasi atau hidup baik separuh atau seluruh tubuhnya di dalam air. Tumbuhan air biasanya dicirikan dengan adanya rongga udara pada tubuhnya serta memiliki kelenturan. Tumbuhan air ada yang seluruh hidupnya berada dalam air maupun hanya sebagian dari tubuhnya yang berada dalam air. Tumbuhan air meliputi mangrove, lamun dan alga (Puspitaningrum et all., 2012).
Tumbuhan air adalah tumbuhan yang tumbuh di air atau sebagian besar siklus hidupnya di air dan merupakan salah satu bagian penting dari ekosistem perairan. Kehadiran tumbuhan air dalam jumlah tertentu/terbatas dan perkembangan populasinya terkendali akan membentuk mikrohabitat yang dibutuhkan oleh ikan sebagai tempat berlindung, mencari makan (feeding ground), memijah (spawning ground) dan mengasuh anakan (nursery ground) (Indriatmoko, 2018).
Tumbuhan air merupakan tumbuhan yang tinggal di sekitar air dan didalam air yang berfungsi sebagai penghasil energi pada suatu ekosistem (Kurniawan, 2012). Kehadiran tumbuhan air pada suatu ekosistem perairan darat adalah penting selama populasinya masih terkendali. Fungsi tumbuhan air pada suatu ekosistem perairan darat di antaranya sebagai sumber makanan hewan seperti ikan, tempat ikan meletakkan telurnya dan tempat berlindung bagi hewan-hewan seperti invertebrata maupun vertebrata dari terik sinar matahari ataupun dari predator. Selain itu, berdasarkan proses fisiologi tumbuhan air dapat mensitesa nutrient dengan bantuan cahaya matahari melalui proses fotosintesis dan secara fisik dapat mengurangi kecepatan aliran air sehingga dapat mengurangi erosi dan menurunkan kadar turbiditas (Kurniawan, 2012).
Tumbuhan air sangat besar peranannya bagi perairan, oleh karena itu maka penting bagi mahasiswa untuk melakukan praktikum guna mengetahui jenis-jenis tumbuhan air yang ada di perairan.
B. Tujuan dan Manfaat Praktikum
Tujuan praktek lapang tumbuhan air ini adalah agar mahasiswa dapat mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan air yang ditemukan di perairan Bungkutoko. Dan manfaat praktikum ini yaitu sebagai masukan untuk dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai tumbuhan air serta dapat dijadikan referensi bagi mahasiswa di perairan Bungkutoko, Kali Biru.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Lamun (Sea grass)
Lamun merupakan tumbuhan yang mempunyai pembuluh secara struktur dan fungsinya memiliki kesamaan dengan tumbuhan yang hidup di daratan. Seperti halnya tumbuhan rumput daratan, lamun secara morfologi tampak adanya daun, batang, akar, bunga dan buah, hanya saja karena lamun hidup di bawah permukaan air, maka sebagian besar lamun melakukan penyerbukan di dalam air. Lamun sebagai tumbuhan berbunga sepenuhnya menyesuaikan diri untuk hidup terbenam dalam laut. Tumbuhan ini terdiri dari daun, rhizoma (rimpang) dan akar. Rhizoma merupakan batang yang terbenam dan merayap secara mendatar serta beruas-ruas. Pada ruasruas tersebut tumbuh cabang-cabang berupa batang yang panjangnya bervariasi mulai dari beberapa milimeter sampai dengan satu meter atau lebih (Phillips & Menes, 1988).
Lamun merupakan kelompok tumbuhan berbunga, berbuah, berdaun, berakar sejati yang tumbuh pada substrat berlumpur dan berpasir bahkan hidup pada kedalaman laut yang dangkal yang terdapat di wilayah perairan. Lamun memiliki kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat pangan yang merupakan sumber makanan. Lamun merupakan jenis tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan lingkungan dekat pantai di sebagian besar benua di dunia. Akan tetapi, ditemukan beberapa spesies yang tidak dapat bereproduksi kecuali muncul pada saat air surut atau pada saat pemasukan air tawar. Beberapa jenis lamun mampu bertahan (Short & Coles, 2006).
B. Makroalga
Makroalga merupakan salah satu penyusun ekosistem di sepanjang paparan terumbu yang memiliki manfaat secara ekologis maupun ekonomis. Secara ekologis, makroalgamerupakan produsen primer dalam rantai makanan, habitat bagi organisme laut kecil (krustasea, moluska, dan ekinodermata), dan sumber makanan bagi organisme laut (Williams & Smith, 2007)
Makroalga merupakan tanaman tingkat rendah yang tumbuh melekat atau menancap pada substrat tertentu seperti pada karang, lumpur, pasir, batu, dan benda keras lainnya. Selain benda mati, makroalga juga dapat melekat pada tumbuhan lain secara epifitik. Pertumbuhan makroalga yang tergantung pada substrat mendapat pengaruh langsung dari sedimentasi (Litaay, 2014).
III. METODE PRAKTEK
A.
Waktu dan Lokasi Praktek
Praktek lapang Tumbuhan Air ini dilaksanakan pada hari Sabtu 11 Junii 2022 pukul 07-00 – 09.00 WITA. Bertempat di Kali Biru Desa Bungkutoko Kecamatan Abeli, Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara.
B. Bahan dan Alat
Adapun alat dan bahan yang di gunakan pada praktikum tumbuhan air
dapat di lihat pada tabel 1 sebagai berikut :
Tabel. 1. Alat dan Bahan yang digunakan pada praktikum tumbuhan air
No | Alat dan Bahan | Satuan | Kegunaan | |
1 | Alat |
|
| |
| - Kertas Laminating | - | wadah sampel | |
| - Penggaris | - | pengukur sampel | |
| - kamera | - | dokumentasi | |
| - Gunting |
| memotong sampel jika adanya kerusakan | |
| - Buku identifikasi
| - | mengidentifikasi sampel yang ditemukan | |
| - Kamera | - | dokumentasi | |
| - Alat tulis | - | mencatat data sampel di lapangan | |
| - Kantong Plastik | - | wadah menaruh sampel yang telah ditemukan | |
| - Koran |
| pembungkus sampel | |
2 | Bahan |
|
| |
| - Tumbuhan air | - | objek pengamatan | |
C. Prosuder Kerja
1. Menentukan Lokasi tempat pengambilan sampel
2. Menyiapkan alat dan bahan
3. Mencari dan mengambil sample tumbuhan air secara koleksi bebas
4. Memotong beberapa bagian daun, batang atau pun akar yang rusak
5. Mengumpulkan semua spesimen kedalam kantong plastik yang di sediakan.
6. Membersihkan ulang tumbuhan air diatas meja atau tempat yang dialas koran yang bersih khususnya pada bagian-bagian yang kurang baik.
7. Melakukan herbarium pada tumbuhan air.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi

Gambar 1. Lokasi Pengamatan
(Sumber : Dok. Pribadi, 2022)
Provinsi Sulawesi Tenggara terdiri dari 10 Kabupaten dan 2 Kota dimana Kota Kendari sebagai salah satu Kota yang ada pada Provinsi Sulawesi Tenggara. Kota Kendari secara geografis terletak di jazirah Tenggara Pulau Sulawesi dengan wilayah darat sebagian besar berada di daratan Sulawesi mengelilingi Teluk Kendari dan terdapat satu pulau yaitu pulau Bungkutoko, secara geofrafis terletak di bagian selatan garis khatulistiwa, berada di antara 3054’30” - 403’11” Lintang Selatan dan 122023’ - 122039’ Bujur Timur. Luas Wilayah daratan Kota Kendari adalah 296.000 Km² dengan batas-batas.
B. Hasil
1. Enhalus acoroides
Menurut Paillin (2009) klasifikasi Enhalus acoroides adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Anthophyta
Class : Angiospermae
Family : Potamogetonacea
Sub family : Zosteroideae
Genus : Enhalus
Species : Enhalus acoroides

Gambar 2. Enhalus acoroides
(Sumber : Dok. Pribadi, 2022
2. Thalassia hemprichii
Klasifikasi Thalassia hemprichii menurut Den Hartog (1970) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Division : Anthophyta
Class : Angiospermae
Order : Helobiae
Family : Hydrocharitaceae
Genus : Thallassia
Species : Thallassia hemprichii

Gambar 3. Thalassia hemprichii
(Sumber : Dok. Pribadi, 2022)
2. Makroalga
1. Padina sp.
Menurut Hartanto (2008) klasifikasi Padina sp. adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Phaeophyta
Kelas : Phaeophyceae
Ordo : Dictyotales
Family : Dictyotaceae
Genus : Padina
Spesies : Padina sp.

Gambar 4. Padina sp.
(Sumber : Dok. Pribadi, 2022)
B.Pembahasan
1. Lamun (sea grass)
Lamun (sea grass) adalah tumbuhan berbunga yang sudah sepenuhnya menyesuaikan diri untuk hidup terbenam dalam laut. Tumbuhan ini terdiri dari rhizome, daun dan akar yang ditemukan dalam perairan pantai yang dangkal atau dalam laguna antara batu karang dan pantai. Beberapa jenis meluas sampai mintakat antara pasang naik dan pasang surut atau mintakat litoral. Dan lamun hidup di perairan dangkal yang agak berpasir. Sering pula dijumpai di terumbu karang. Kadang-kadang ia membentuk komunitas yang lebat hingga merupakan padang lamun (sea grass bed) yang cukup luas. Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktifitas organiknya, dengan keanekaragaman biota yang cukup tinggi. Pada ekosistem ini hidup berbagai keanekaragaman biota laut seperti ikan, crustacea, mollusca, echinodermata dan cacing (Tangke, 2010).
a. Morfologi
Hasil pengamatan Enhalus acoroides merupakan kelas dari Angiospermae. Struktur tanaman ini terdiri dari daun-daun yang panjang dan pipih kaku seperti kulit (leathary linear) atau seperti ikat pinggang yang kasar (coarse strap shape), berwarna hijau dalam pelepah bonggol (leaf sheat). Hal ini sesuai dengan Romimohtarto (2001), yang mengatakan bahwa Enhalus acoroides termasuk kelas Angiospermae, dan memiliki daun-daun yang panjang dan pipih kaku seperti kulit (leatharylinear) atau seperti ikat pinggang yang kasar (coarsestrapshape), berwarna hijau dalam pelepah bonggol (leafsheat).
Hasil pengamatan pada lamun jenis Thalassia hemprichii termasuk ke dalam divisi Anthophyta dan memiliki daun melengkung dengan bintik-bintik kecil berwarna hitam, ujung daun bulat dan bergerigi, memiliki rhizoma tebal rimpang berdiameter 2-4 mm tanpa rambut-rambut kaku. Panjang daun berkisar 100-400 mm dan lebar daun 4-10 mm. hal ini sesuai dengan pernyataan Hutomo (1977), yang mengatakan bahwa Thalassia hemprichii memilliki ciri-ciri morfologi khusus memiliki batang yang berbuku-buku, memiliki rhizomeyang tebal, helaian daun berbentuk melengkung dan bergerigi serta memiliki panjang daun antara10-40 cm.
b. Habitat dan Penyebaran
Enhalus acoroides hidup di bagian dalam perairan dan menancap di substrat yang berupa pasir atau lumpur yang halus. Tumbuhan ini terdapat di bawah air surut rata-rata pada pasut purnama pada dasar pasir lumpuran. Mereka tumbuh subur di bawah tempat terlindung di pinggir bawah dari mintakat pasut dan di batas atas mintakat bawah serta pada daerah sublitoral. Hal ini sejalan dengan pernyataan Arami (2010) yang menyatakan bahwa lamun golongan Enhalus acoroides hidup pada habitat pasir lumpuran. Dan penyebarannya yaitu pada daerah antara air surut rata-rata perbani dan air surut rata-rata purnama, serta pada daerah sublitoral atas dan terdapat di bagian dengan substrat yang berpasir.
Thalassia hemprichii hidup di perairan dangkal di daerah intertidal, namun jenis ini sangat banyak di temukan di daerah sublitoral, dan hidup di kedalaman 20 – 110 cm. Hal ini sesaui dengan Nontji (2007), yang menyatakan bahwa Thalassia hemprichii biasanya dapat ditemukan pada perairan dengan kedalaman 20-110 cm. Dan Thalassia hemprichii termasuk ke dalam divisi Anthophyta.
c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii walaupun spesies ini menyebar luas dan hal ini mengindikasikan adanya kisaran terhadap temperatur atau suhu yang membuat spesies ini dapat bertahan hidup yaitu berkisar 280 – 300 oC. Dan Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii memiliki toleransi terhadap salinitas yang berbeda – beda, namun sebagian besar memiliki kisaran yang lebar terhadap salinitas yaitu antara 10 – 400 o/oo. Nilai optimum tolenransi terhadap salinitas di air laut adalah 350 o/oo. Hal ini sesuai dengan Bapedal (1996), yang menyatakan bahwa kisaran termperatur atau suhu yang optimal bagi lamun adalah 280 – 300 oC dan salinitas lamun berkisar antara 10 – 400 o/oo, kemampuan proses fotosintesi akan menurun dengan tajam apabila salinitas dan temperatur perairan di luar kisaran optimal tersebut.
2. Makroalga
Makroalga adalah tumbuhan yang dapat hidup di perairan laut, terdiri dari alga bentik. Alga bentik yaitu termasuk jenis yang tumbuh melekat pada substrat, seperti alga hijau (Chlorophyta), alga merah (Rhodophyta), alga coklat (Phaeophyta). Sedangkan alga planktonik yaitu termasuk jenis yang berukuran mikroskopik, hidupnya melayang atau mengapung dan gerakannya mengikuti gerakan air, seperti diatomae, coccobithophorid (Chrysophyta) dan dinoflagellata (Pyrrophyta) (Marianingsih, 2013).
a. Morfologi
Hasil pengamatan yang dilakukan terhadap spesies Padina sp menunjukkan bahwa spesies ini memiliki kromatofora yang berwarna cokelat, hal ini disebabkan karena banyak mengandung pigmen fotosintetik fikosantin. Semua divisi Phaeophyta bersifat multiseluler dengan morfologi bervariasi dari filament bercabang, berbentuk seperti kipas, padina sp. memiliki permukaan daun licin dan tebal, dan berwarna cokelat muda. Thallusnya berbentuk seperti cangkang keong yang lentur, lurik dan berwarna coklat tua juga coklat muda serta coklat kekuningan. Phaeophyta ini memiliki holdplast tempat menempel thallusnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nontji (1993), yang mengatakan bahwa Padina sp. berbentuk tali seperti kipas, membentuk segment lembaran tipis, substansinya gelatinous, warna coklat kekuningan, bagian atas lobus agak melebar, holfast berbentuk cakram kecil berserabut. Dan Padina sp. adalah jenis alga yang termasuk ke dalam divisi Phaeophyta serta mempunyai kelas Phaeophyceae.
b. Habitat dan Penyebaran
Padina sp. pada umumnya berada di sela-sela karang hidup dan mati, batu karang, pecahan karang dan pasir kasar. Holdfast berupa kumpulan massa akar serabut mampu mengkait substrat keras maupun partikel pasir. Keberadaan jenis terdapat di paparan terumbu karang. Terdapat pada tipe substrat berpasir dan biasanya melekat di karang. Alga ini hidup menancap pada substrat berpasir. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nontji (2007) mengatakan bahwa, tumbuhan laut, alga yang multiseluler (bersel banyak) cara hidupnya sebagai fitobentos yang hidup menancap atau melekat pada substrat dan di karang.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi
Padina sp. mempunyai kisaran pH agar dapat hidup. Apabila kisaran pH tidak bisa ditelorir oleh alga, maka alga tersebut akan mati, dan kisaran pH agar alga dapat berthan hidup adalah 6 – 7. Hal ini sesaui dengan pernyataan Setyawan (2015), yang menyatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi kehidupan alga yaitu cahaya matahri, pH, dan kemampuan bersaing dengan alga lain. Dan sejalan dengan pernyataan Nontji (2007), yang mengatakan kisaran pH alga agar bisa bertahan hidup di perairan yaitu 6 – 7, kisaran pH yang kurang baik untuk alga yaitu 4 – 5, dan kisaran pH alga bisa langsung mati yaitu 2 – 3.
V. KESIMPULAN DAN SARAN![]()
A. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan tumbuhan air yang ditemukan dapat disimpulkan sebagai berikut. Jenis tumbuhan air yang ditemukan pada perairan Bungkutoko, Kali Biru yaitu, dua jenis lamun (Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii) dan satu jenis alga (Padina sp.). Lamun dan alga terdapat pada perairan Bungkutoko, Kali Biru yang merupakan daerah intertidal (pasang surut).
B. Saran
Sebaiknya dalam praktikum semua anggota kelompok aktif dalam melakukan praktikum agar bisa lebih memahami apa yang menjadi tujuan dari praktikum, dan sebaiknya asisten lebih mengontrol lagi praktikannya.
Komentar
Posting Komentar