Laporan Fisiologi Hewan Air : Moulting

 I. PENDAHULUAN

Latar Belakang

            Moulting adalah proses pergantian kulit secara alami dimana kepiting akan melepaskan kulit lama yang keras kemudian mengganti dengan kulit baru. Kepiting bakau (scylla serratta), akan mengalami pergantian kulit sebanyak 18 kali dari stadia intar sampai dewasa. Secara umum frekuensi pergantian kulit lebih sering terjadi pada stadia awal dibandingkan stadia dewasa dengan demikian kesempatan tumbuh kepiting terjadi saat kepiting muda (Djunaedi, 2016).

            Pertumbuhan kepiting bakau (scylla serratta), sangat dipengaruhi oleh molting karena pertambahan bobot, panjang, dan lebar karapaks akan terjadi setelah molting.Dimana ada 4 tahap molting yaitu, premolt, molt, post molt, intermolt. Premolt yaitu, persiapan untuk mencapai moulting, molt yaitu sedang terjadinya moulting, post molt yaitu pemulihan cangkang setelah terjadi prosese moulting, intermolt yaitu fase dimana eksoskeleton telah terbentuk sempurna Hal ini sesuai dengan pernyataan Aisyah dkk, (2017) bahwa proses moulting erat kaitanya dengan ganti kulit dimana terdapat 4 fase moulting yaitu Premolt, molt, postmolt, intermolt. Pada umumnya semua jenis hewan crustacea akan melakukan molting dalam pertumbuhannya di mulai dari fase larva hingga dewasa (Eko,2012).

            Dari uraian diatas maka sangat diperlukan diadakan praktikum mengenai proses molting.

Tujuan dan Manfaat

Tujuan dari praktikum ini yaitu,untuk mengetahui bagaimana proses molting pada crustacea (kepiting) Manfaat dari praktikum ini yaitu agar setiap mahasiswa dapat mengetahui bagaimana proses molting pada crustacea (kepiting).

II. METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat

            Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 20 Mei 2022 pukul 08.00 – 10.00 WITA. Bertempat di Labaoratorium Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Halu Oleo.

Alat dan Bahan

            Adapun alat yang digunakan dalam praktikum kali ini ialah gunting,toples, baki. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini ialah kepiting bakau ( Scylla sp) dan air laut.

Metode pengamatan

            Adapun metode yang digunakan dalam praktikum ini ialah memastikan sampel percobaan dalam keadaan tidak stress,kemudian memegang erat kedua capit kepiting dan mengaitkan satu sama lain, biarkan renggang dan bergerak sampai melepaskan organ tersebut, selanjutnya menekan perlahan pangkal kaki renang sampai kepiting melepaskan dengan sendirinya , hingga yang tersisa hanya kaki dayungnya. Setelah itu masukkan kepiting kedalam toples yang berisi air laut, dan rendam kepiting dengan tidak melebihi seluruh tubuh badannya.

III.HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

 Adapun hasil yang diperoleh dari pengamatan ialah sebagai berikut : Tabel 1. Molting pada induksi autotomi

Organisme

Organ

Hormon

Kepiting Bakau (Syclla sp.)

X : Capit, Kaki Jalan, dan Kaki Renang.

Y : Badan

MIH

 

 

 

MH dan OH

 

Pembahasan

            Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan yaitu dengan menggunakan metode induksi autotomi, dimana autotomi adalah metode pemotongan kaki jalan dan capit dengan tujuan untuk merangsang pertumbuhan organ yang baru. Metode autotomi ini hanya melukai capit dan menghilangkan kaki jalan namun untuk tangkai mata masih utuh sehingga hormon penghambat yang di sekresikan oleh organ masih terbentuk dan menghambat laju pertumbuhan dimana dalam menghambat laju pertumbuhan hormon yang berperan yaitu MIH. Hal ini sesuai dengan Djunaedi (2016), yang mengatakan bahwa autotomi yang terluka ialah capit dan kaki jalan dan sementara organ lainnya masih utuh dan menghambat proses pertumbuhan hormon MIH.

            Scylla serrata (kepiting bakau) didalam organ X ,terdapat hormon penghambatan moulting yaitu hormon MIH dan pada organ Y terdapat hormon ekdisteroid dimana hormon ini berfungsi untuk merangsang molting. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ario (2019), bahwa pada kaki jalan kepiting terdapat moult inhibiting hormon (HIM) yaitu, hormon penghambat molting berasal dari kelenjar sinus gland yang di hasilkan oleh organ X. Dimana hormon HIM ini di edarkan keseluruh bagian tubuh sampai pada pangkal kaki jalan kepiting melalui hemolimph. Adanya perlakuan mutilasi di ketahui dapat mengurangi aktifitas hormone HIM sehingga organ Y, akan terespon untuk menghasilkan hormon ekdisteroid untuk merangsang moulting.

IV.PENUTUP

Simpulan

            Berdasarkan hasil pengamatan maka dapat di simpulkan bahwa moulting dengan menggunakan metode induksi autotomi yaitu metode yang digunakan untuk mempercepat terjadinya moulting dengan melepaskan capit dan kaki jalan pada kepiting. Dalam hal ini kepiting akan kehilangan keseimbangan hidupnya dan untuk menyesuaikan hidupnya kembali maka kepiting akan melepaskan eksoskeleton lama dan membentuk kembali dengan bantuan kalsium.

Saran

            Adapun saran dalam praktikum fisiologi ini adalah sebaiknya praktikan mengikuti dan menjalankan prosedur kerja praktikum sesuai arahan dari asisten dan mempelajari materi dan penuntun agar praktikum berjalan dengan lancar.

DAFTAR PUSTAKA

Aisyah, N., Agus M. & Tri Y. M. 2017.         Analisis Pemanfaatan Dolomit dalam             Pakan Terhadap Periode Molting           Udang             Vaname (Litopeneus   vannanei) di    Tambak Unikal,           PENA Akuatika. Vol. 16 (1) :      94- 102

Ario, R., Djunaedi, A., Paratiko, I.,    Subardjo, P     . & Farida,F. 2019.      Perbedaan Metode      Mutilasi                      Terhadap         Lama Waktu   Moulting         Scylla Serrata.             Bulletin           Oseanografi Maria.     Vol. 16 (1) :             103-108.

 

 

Djunaedi, A .2016. Pertumbuhan Dan           Presentase Moulting Pada Kepiting    Bakau (scylla   serrata Forsskal,             1775)   Dengan Pemberian Stimulasi Moulting Berbeda. Jurnal Kelautan    Tropis. Vol. 19(1): 29-            36.

Supriyano. E., W., Wahid, P., Khairiah.,        2012.   Pengaruh Mutilasi Dan           Ablasi Terhadap          Moulting             Kepiting Bakau (scylla serrata)           Sebagai Kepiting Lunak. Jurnal          Sains    Natural Universitas Nusa             Bangsa. Vol 2             (1) : 81-91

Komentar