Laporan Plantonology


I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Organisme lautan terbagi atas tiga golongan yaitu bentos, nekton, dan plankton. Bentos adalah organisme yang mendiami dasar perairan. Nekton merupakan organisme yang lebih besar dengan kemampuan renang yang melakukan kegiatan di daerah pelagik. Perairan laut umumya terdapat berbagai organisme yang hidup di dalamnya salah satunya yaitu plankton. Plankton adalah organisme yang berukuran kecil yang hidup di perairan dan pergerakannya dipengaruhi oleh arus.  Berdasarkan jenisnya, plankton dibedakan menjadi dua yaitu zooplankton dan fitoplankton. Zooplankton adalah plankton hewani yang hidup di perairan dan pergerakannya dipengaruhi oleh arus. Sedangkan fitoplankton adalah plankton tumbuhan yang hidup di perairan dan pergerakannya di pengaruhi oleh arus (Simanjuntak, 2006).

    Keberadaan plankton di suatu perairan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu intensitas cahaya, suhu, dan kecerahan suatu perairan. Intensitas cahaya sangat dibutuhkan terutama bagi fitoplankton untuk melakukan proses fotosintesis karena fitoplankton sebagai tumbuhan mengandung pigmen klorofil yang mampu melaksanakan reaksi fotosintesis di mana air dan karbon dioksida dengan sinar surya dan garam-garam hara dapat menghasilkan senyawa organik seperti karbohidrat. Fitoplankton merupakan sumber mata rantai utama dalam suatu perairan yaitu sebagai produsen primer atau organisme autotrof karena kemampuannya membentuk zat organik dan anorganik. Fitoplankton ini sangat dibutuhkan oleh organisme lain sebagai bahan makanan terutama bagi organisme yang mengawali daur hidupnya sebagai plankton (Nontji, 2008).

    Beberapa jenis organisme penting dan lebih dikenal yang membentuk komunitas laut  adalah tumbuhan air, plankton, nekton, neuston, bentos dan perifiton. Seperti halnya  kehidupan teresterial, produsen primer di ekosistem laut ini adalah organisme  berklorofil, dalam hal ini adalah tumbuhan hijau dan fitoplankton. Fitoplankton, diatom dan dinoflagellata adalah produsen dominan pada tingkat trofik di laut. Seperti halnya tumbuhan tingkat tinggi yang ada di ekosistem  daratan, mereka adalah produsen utama zat-zat organik yang akan dimanfaatkan oleh organisme lain yang ada misalnya zooplankton atau organisme yang lebih besar lagi,  misalnya  ikan (Odum, 1971).

     Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan parktikum lapang planktonologi agar dapat lebih jauh mengetahui plankton terutama zooplankton dan fitoplankton serta kelimpahannya dan keanekaragamannya disuatu perairan.

B. Tujuan Praktikum

          Adapun tujuan dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat mengetahui struktur komunitas dan penyebaran phytoplankton, diatom, dan epiphyte pada badan air, substrat, dan yang melekat pada seagrass di perairan Bungkutoko.

C. Manfaat Praktikum

            Manfaat dari praktikum ini yaitu, sebagai bahan masukkan untuk menambah ilmu pengetahuan, wawasan mengenai stuktur komunitas dan penyebaran phytoplankton pada badan air, diatom pada substrat, dan epiphyte yang melekat pada seagrass di Perairan Bungkutoko.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II. TINJUAN PUSTAKA

A. Zooplankton/Phytoplankton/Diatom/Epiphyte

            Plankton adalah organisme yang meleyang-layang pada badan air dan pergerakannya sangat dipengaruhi oleh arus. Ukuran plankton sangat bervariasi bergantung pada jenis dan penggolongan plankton namun umumnya mempunyai ukuran mikroskopik. Plankton dibagi atas dua golongan, yaitu fitoplankton dan zooplankton (Aisy, 2004). 

          Diperairan plankton sangat penting bagi kehidupan ikan, langsung atau tidak langsung, juga penting pula bagi segala macam jenis hewan yang hidup didalam air baik perairan tawar, payau, dan laut. Dengan demikian seluruh kehidupan di perairan tergantung pada hasil fotosintesis fitoplankton (mikrofita) dan tumbuhan air (makrofita). Keduanya mampu mengubah unsur-unsur anorganik menjadi bahan-bahan organik dengan bantuan cahaya matahari. Karesteristik kehidupan yang terdistribusi pada sebagian besar kolom air, kelimpahan yang tinngi dari kemampuan dalam menyerap cahaya matahari oleh seluruh permukaan sel menjadikan peranannya lebih penting dibandingkan dengan tumbuhan air lainnya (Aisy, 2004). 

          Kholik (1997) menyatakan bahhwa plankton dapat dijumpai baik di perairan tawar, payau, dan laut. Berdasarkan ukurannya, plankton dapat dibedakan menjadi ultra (75 µm), nano plankton (antara 5-60 µm), dan net plankton (> 60 µm).

 

1. Morfologi

          Struktur morfologi fitoplankton bermacam-macam, ada yang uniseluler dan multiseluler, berbentuk benang, bulat, oval, hidup tunggal maupun berkelompok melawan arus air dan fitoplankton umumnya berwarna, hal ini dikarenakan membran nukleus, mitokondria, lisosom, badan golgi, retikulumendoplasma, pyrenoid dan plastid tetapi memiliki ribosom Dinding sel pada fitoplankton ada yang terdiri dari selulosa, silika, pektin dsb. Fitoplankton dapat bergerak sedikit, dengan silia atau pun flagela, tetapi tidak mempunyai daya untuk Sel dari fitoplankton memiliki dinding sel, membran plasma (Hutabarat, 2000).

          Sel Chlorella umumnya dijumpai sendiri, kadang-kadang bergerombol. Protoplast sel dikelilingi oleh membrane yang selektif, sedangkan di luar membran sel terdapat dinding yang tebal terdiri dari sellulosa dan pektin. Di dalam sel terdapat suatu protoplast yang tipis berbentuk seperti cawan atau lonceng dengan posisi menghadap ke atas. Pineroid-pineroid stigma dan vacuola kontraktil tidak ada Warna hijau pada alga ini disebabkan selnya mengandung klorofil a dan b dalam jumlah yang besar, di samping karotin dan xantofil (Rostini, 2007).

          Salah saru contoh zooplankton adalah Kopepod. Kopepod (copepod) adalah nama umum yang diberikan untuk hewan dari subkelas Copepoda, dibawah Krustacea (Crustacea), filum Arthropoda. Nama Copepoda berasal dari bahasa Yunani kuno “cope” = dayung dan “poda” = kaki, atau keseluruhannya berarti “yang mempunyai kaki dayung”. Diberi nama demikian karena kopepoda memiliki renang yang kuat yang memungkinnya sewaktu-waktu dapat berenang (Nontji, 2008).

2. Habitat dan Distribusi

          Fitoplankton dapat ditemukan dibeberapa jenis perairan, yaitu laut, danau, sungai, kolam dan waduk. Fitoplankton dapat hidup di berbagai kedalaman asalkan masih terdapat cahaya matahari yang mencukupi untuk melakukan fotosintesis. Sifat khas fitoplankton adalah mampu berkembang secara berlipat ganda dalam waktu yang relatif singkat, tumbuh dengan kerapatan tinggi, melimpah dan terhampar luas. Fitoplankton memperoleh energi melalui proses yang dinamaka fotosintesis, sehingga harus berada pada bagian permukaan (disebut sebagai zona euphotic) laut, danau dan perairan lainnya (Fachrul, 2007).

          Zooplankton adalah hewan akuatik yang nonmotil atau kemampuan renangnya sangat lemah dan melayang-layang di kolam air laut atau perairan tawar untuk berpindah dalam jarak jauh. Biasanya zooplankton bergerak di zona yang masih diterangi cahaya matahari dimana sumber makaan berlimpah dan juga dapat ditemukan di laut dalam. Distribus zooplankton diperairan biasanya ditandai dengan kebiasaan migrasinya. Migrasi menunjukkan luasnya variasi dari taksonomi, baik itu hewan terrestrial, ikan maupun plankton. Meskipun taxa dan jenis ini berbeda dalam banyak aspek kekuatan migrasi juga dipengaruhi cahaya, suhu dan ketersediaan makaan guna menunjang sintasannya (Gentini, 2011).

          Epifit yang mendiami tumbuhan lamun memiliki sumbangan yang berarti sebagai produsen primer dan sumber karbon bagi grazing dan organismee heterotrof lain. Pada umumnya distribusi epifit lebih dipengaruhi oleh faktor biologi dibandingkan faktor fisik. Salah satu faktor biologi yang mempengaruhi kehadiran epifit adalah terbentuknya lapisan lendir pada permukaan daun lamun, sehingga daun tetap dalam keadaan basah sekalipun berada pada kondisi air surut. Terbentuknya lapisan lendir merupakan substrat yang baik bagi kolonisasi epifit. Epifit diartikan sebagai tumbuhan atau hewan yang hidup pada tumbuhan, termasuk yang memiliki kaitan langsung unsur hara dengan tumbuhan inang Epifit yang melekat pada daun lamun dapat dikelompokkan sebagai tumbuhan, hewan mikro, monera, diatomae, dan telur Penyebaran epifit pada permukaan daun lamun biasanya tidak merata. Epifit tumbuh subur pada peraimn dengan substrat dasar yang berlumpur dan dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari. Sedangkan epifit yang mendiami ujung daun berbeda baik dalam jumlah maupun jenis dibandingkan dengan yang hidup pada pangkal daun. Kolonisasi epifit dipengaruhi oleh umur dan bagian daun yang berfungsi sebagai substrat (Wenno, 2003).

3. Keanekaragaman/Keseragaman/Dominansi

          a. Indeks keanekaragaman

          keanekaragaman atau Diversity Indeks diartikan sebagai suatu gambaran secara matematik yang melukiskan struktur masyarakat kehidupan. Indeks keanekaragaman akan mempermudah dalam menganalisa informasi-informasi mengenai jumlah individu dan jumlah spesies suatu organisme (Kaswadji, 1976).

          Sedikit atau banyaknya spesies yang terdapat dalam suatu contoh air akan mempengaruhi indeks keanekaragamannya, meskipun nilai ini sangat bergantung pula dari jumlah individu masing-masing spesies. Keanekaragaman phytoplankton yang besar, sangat penting bagi organisme yang menjadikannya sebagai bahan makanan (Patcrik, 1976).

          Indeks keanekaragaman dapat dijadikan petunjuk seberapa besar tingkat pencemaran suatu perairan.

Tabel 1. Tingkat Keanekaragaman (Maheswara, 2004).

H’ < 1

Tingkat keanekaragaman rendah, Komunitas biota tidak stabil

1 < H’ < 3

Tingkat keanekaragaman sedang, komunitas biota stabil sedang

H’ > 3

Tingkat keanekaragaman tinggi, komunitas biota stabil (prima)

 

b. Indeks keseragaman

          Dalam suatu komunitas, kemerataan individu tiap spesies dapat diketahui dengan menghitung indeks keseragaman. Indeks keseragaman ini merupakan suatu angka yang tidak bersatuan, yang besarnya antara 0-1, semakin kecil nilai indeks keseragamn, semakin kecil pula keseragaman suatu populasi tersebut. Sebaliknya semakin besar nilai indeks keseragaman, maka populasi menujukkan keseragaman, yang berarti bahwa jumlah individu tiap spesies boleh dikatakan sama atau merata (Pasengo, 1995).

 

 

Tabel 2. Tingkat Keseragaman (Michael, 1994).

0 ≤ E ≤ 0,4

Keseragaman rendah, kekayaan individu yang di miliki oleh masing-masing jenis jauh berbeda, kondisi lingkungan tidak stabil karena mengalami tekanan

0,4 < E ≤ 0,6

Keseragaman sedang, kondisi lingkungan tidak terlalu stabil

0,6 < E ≤ 1,0

Keseragaman tinggi, jumlah individu pada masing-masing jenis relatif sama, perbedaannya tidak terlalu mencolok, kondisi lingkungan stabil

         

c. Indeks dominansi

          Dominansi jenis phytoplankton dapat diketahui dengan menghitung indeks dominansi (C). Apabila nilai indeks dominansi mendekati 1, maka komunitas tersebut didominasi oleh spesies atau filum tertentu, dan apabila mendekati 0, maka tidak ada spesies atau filum yang dominan pada komunitas tersebut (Odum, 1971).

Tabel 3. Tingkat Dominansi

0 ≤ E ≤ 0,4

Dominansi rendah, tidak terdapat spesies yang secara ekstrim mendominasi spesies lainnya, kondisi lingkungan stabil, tidak terjadi tekanan ekologis terhadap biota di lingkungan tersebut

0,4 < E ≤ 0,6

Dominansi sedang, kondisi lingkungan cukup stabil

0,6 < E ≤ 1,0

Dominansi tinggi, terdapat spesies yang mendominasi spesies lainnya, kondisi lingkungan tidak stabil, terdapat suatu tekanan ekologi

 

B. Stuktur Komunitas

            Struktur komunitas fitoplankton ditentukan oleh keragaman jenis fitoplankton yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti intensitas cahaya dan nutrient. Fitoplankton disusun oleh berbagai jenis yang berbeda, baik secara taksonomik maupun morfometrik. Secara taksonomis fitoplankton terdiri dari Cyanophyceae (Banne & Noviyanto, 2011).

          Struktur komunitas dan pola penyebaran zooplankton dalam perairan dapat dipakai sebagai salah satu indikator biologi dalam menentukan perubahan kondisi perairan tersebut. Untuk mengkaji hal tersebut salah satu yang dapat dilakukan yaitu dengan mengetahui komposisi, kelimpahan, dan keanekaragaman zooplankton. Struktur komunitas zooplankton di suatu perairan ditentukan oleh kondisi lingkungan dan ketersediaan makaan dalam hal ini fitoplankton. Apabila kondisi lingkungan sesuai dengan kebutuhan zooplankton maka akan terjadi proses pemangsaan fitoplankton oleh zooplankton. Apabila kondisi lingkungan dan ketersediaan fitoplankton tidak sesuai dengan kebutuhan zooplankton maka zooplankton akan mencari kondisi lingkungan dan makaan yang lebih sesuai (Handayani & Mufti, 2005).

C. Klasifikasi

          a. Phytoplankton

          Menurut Kemdiknat (2010), klasifikasi dari salah satu divisi Chrysophyta :

Kingdom       : Viridiplantae

          Phylum         : Chrysophyta

                   Class            : Diatomphyceae

                             Order           : Bacillaria

                                      Family          : Bacillariceae

                                                Genus           : Bacillaria

                                                          Spesies         : Bacillaria sp.

         

Description: Bacillaria - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Gambar 1. Bacillaria sp.

(Sumber : Dok. Google, 2022)

          b. Zooplankton

          Menurut Smet, (2005) dalam Fontaneto (2013), klasifikasi rotifera adalah sebagai berikut :

Kingdom       : Animalia

          Phylum         : Rotifera

                   Class            : Monogononta

                             Order           : Ploima

                                      Family          : Lepadellidae

                                                Genus           : Colurella

                                                          Spesies         : Colurella adriarica

 

Description: Colurella adriatica - Rotifère - Protiste (règne animal) | Sprinkles

Gambar 2. Colurella adriarica

(Sumber : Dok. Google, 2022)


 

III. METODE PRAKTEK

A. Waktu dan Lokasi Praktek

          Praktek lapang Planktonologi dilaksanakan hari Sabtu, pada tanggal 11 Juni 2022. Pada pukul 06.00-10.00 WITA. Bertempat di Perairan Bungkutoko Kecamatan Abeli, Kendari, Sulawesi Tenggara.

          Pengamatan laboratorium dilaksanakan pada hari Rabu, 15 Juni 2022 pukul 08.00-10.00 WITA, bertempat di Laboratorium Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Haluoleo, Kendari.

B. Alat dan Bahan

          Alat dan bahan yang digunakan dalam dalam praktikum ini dapat dilihat dalam Tabel 4 berikut:

Tabel 4. Alat dan Bahan beserta kegunaannya yang digunakan pada                       Praktikum Planktonologi

No

Alat dan bahan

Satuan

Kegunaan

1

- Alat

 

 

 

- Plankton net

Cm

Untuk menyaring plankton di perairan.

 

- Ember( kapasitas 5 liter)

L

Untuk mengambil sampel air laut.

 

- Mikroskop

-

Untuk mengamati plankton.

 

- Pipet tetes

ml

Untuk sampel air.

 

- Botol UC

ml

Untuk menyimpan sampel plankton.

 

- Botol UC

mm2

Untuk tempat sampel air

 

- Kaca obyek

mm2

Sebagai penutup kaca obyek.

 

- Kertas label

-

Sebagai penanda sampel yang diambil.

 

- Buku penuntun

-

Sebagai panduan identifikasi spesies plankton.

 

- Cutter

-

Untuk memotong epifit yang diambil diperairan

2

- Bahan

 

 

 

- Sampel nitrat

ml

Sebagai sampel untuk analisis plankton

 

- Sampel epifit

Ml

Sebagaihabitat alamiah epiphyte.

 

- Sampel diatom

Ml

Sebagai habitat alamiah diatom

 

- Sampel Badan   air

Ml

Sebagai habitat alamiah planton di badan air

 

C. Metode Praktek

a)    Pengambilan Plankton di Badan Air

1. Menentukan titik pengambilan sampel pada tiap stasiun.

2. Mengambil sampel air yang diketahui jumlah volume air untuk disaring menggunakan plankton net.

3. Hasil penyaringan dipindahkan ke botol sampel yang telah dilengkapai dengan informasi mengenai tempat/stasiun, waktu pengambilan, dan info lain yang menunjang keterangan sample.

4. Segera setelah sampel dipindahkan kedalam botol sample, dilakukan pengawetan dengan menggunakan formaldehide atau glutaraldehide dengan konsentrasi 0.2 – 0.4 %.

5. Dalam 100 ml sampel air yang dikumpulkan disarankan menggunakan 0,2 – 0,4 ml formaldehide/glataraldehide.

6. Setelah di laboratorium, sampel air digoyangkan teratur hingga   terjadi percampuran merata dan menghindari pengendapan plankton pada dasar botol sampel.

7. Pengamatan dibawah microskop dapat dilakukan dengan pembesaran 10– 1000 x pembesaran.

8. Pengamatan plankton dalam sampel dapat menambil sampel dengan menggunakan pipet untuk langsung diamati dibawah mikroskop dengan perhitungan konversi dari luasan pandang (diameter) perjumlah cell yang diamati.

b)    Pengambilan Plankton di Substrat

1. Menentukan titik pengambilan sample pada tiap stasiun.

2. Mengambil sampel sediment dengan menggunakan ekman grap.

3. Setelah ekman grap dinaikkan keatas, dengan hati-hati kita mengambil sampel sedimen yang berada dalam ekman grap tadi menggunakan pipa paralon mini.

4. Kedalaman sampel sediment yang diambil adalah 10 cm.

5. Sampel dipisahkan perkedalaman pada 2 plastik samplel yang telah diberi nomor.

6. Penomoran sample merupakan penanda bagi letak pengambilan sample, waktu pengambilan dan informasi lain yang diperlukan.

7. masing-masing 0- 4 cm untuk lapisan permukaan sediment, 4 –   10 cm untuk lapisan dasar sediment.

8. Sampel diharapkan disimpan pada freezer sebelum diamati.

9. Pada pengamatan sampel sediment, terlebih dahulu menimbang sampel sediment yang di letakkan diatas gelas cawan dengan menggunakan timbangan elektrik untuk menetukan berat sampel. (Namun terlebih dahulu harus ditentukan berat cawan petri saat sebelun disimpankan sampel dan sesudah disimpankan sample).

10. Setelah berat sampel diketahui, sampel diencerkan dengan menggunakan aquades yang ditentukan volumenya berdasarkan jumlah sample yang ditimbang.

11. Untuk berat sampel 2 – 4 gram kita dapat menggunakan 10 ml aquades.

12. Dengan menggunakan micropipet kita mengambil sampel air tadi untuk mengamati diatom yang ada dalam sampel.

13. Pengamatan dibawah microskop dapat dilakukan dengan pembesaran 100 – 1000 x pembesaran.

14. Pengamatan plankton dalam sampel dapat mengambil sampel dengan menggunakan pipet untuk langsung diamati dibawah mikroskop dengan perhitungan konversi dari luasan pandang (diameter) perjumlah cell yang diamati.

c)  Pengambilan Plankton di daun Seagrass

1. Menentukan daerah pengambilan sample pada tiap stasiun

2. Mengambil sampel daun seagrass dengan menggunting daun tersebut pada pangkal daun diatas rizom.

3. Daun yang telah digunting segera diwawah kedarat .

4. Daun yang diambil digunting sepanjang 5 - 10 cm tergantung pada penampakan kepadatan epiphyte.

5. Lakukan pengukuran lebar dan panjang permukaan daun seagrass.

6. Setelah didapatkan ukuran daun, dilakukan pengerukan/pelepasan epiphyte dengan sangat hati-hati dengan menggunakan bagian yang tumpul dari gunting. Sebaiknya dilakukan pelah-pelan agar jangan sampai merusak jaringan permukaan daun dan pastikan hanya epiphyte yang terangkat.

7. Basuh permukaan daun dan gunting dengan aquades sebanyak 5 ml.

8. Epiphyte yang telah dibuka, dimasukkan kedalam botol sampel dan diberi aquades sebanyak 5 ml, hingga total jumlah air yang ada dalam botol sampel adalah 10 ml.

9. Segera setelah sampel dipindahkan kedalam botol sample, dilakukan pengawetan dengan menggunakan formaldehide atau glutaraldehide dengan konsentrasi 0.2 – 0.4 %.

10. Setelah di laboratorium, sampel air digoyangkan terotur hingga terjadi percampuran merata dan menghindari pengendapan plankton yang telah mati.

11. Pengamatan dibawah microskop dapat dilakukan dengan pembesaran 100 – 1000 x pembesaran.

12. Pengamatan plankton dalam sampel dapat menambil sampel dengan    menggunakan pipet untuk langsung diamati dibawah mikroskop dengan perhitungan konversi dari luasan pandang (diameter) perjumlah cell yang diamati.

D. Analisis Data

                         Ada tiga tahapan penting dalam menentukan dan menghitung kepadatan setiap jenis plankton di alam khusunya perairan pantai dan laut. Ada tiga tahapan dalam mengkalkulasi sample plankton yang kita dapatkan.

Langkah Pertama : Sebelumnya kita harus dapat menentukan berapa total sampel kita yang di dapat dialam. Untuk menetukan total sample dalam satuan meter kubik air laut (m3). Kita dapat menggunakan persamaan dibawah ini seperti umumnya menghitung volume suatu silinder.

Volume sampel (m3) (Volume) = Pi . r2 . L

Dimana :

Pi                   : 3.1415926536...

r2                   : luasan bukaan mulut jaring (diameter plankton net)

L                    : Panjang (jarak yang ditempuh dalam pengambiln sample)            (m)

Catatan : Saat kita mengambil sampel dengan bantuan kapal, “L” (panjang tarikan dalam meter) di kalukulasi dengan mengetahui kecepatan dari kapal dalam meter perjam dan waktu (durasi pengambilan sampel). Sehingga “L” tadi dapat di kalkulasi dengan menggunakan

Panjang penarikan = kecepatan x waktu

Langkan kedua : Menghitung rata-rata jumlah dari tiap spesies pertetes (drop) sample di bawah mikroskop.

Yang harus kita perhatikan adalah :

1. Total jumlah dari tiap spesies yang dihitung (suatu penjulahan yang diambil dari seluruh tetes (drop) yang dianalisis.

2. Total tetes (drop) yang dianalisis.

Penghitungannya : sangat sederhana dengan membagi jumlah dari tiap spesies dari tatal jumlah tetes (drop) yang dianalisis. Gunakan dua desimal untuk menjaga akurasi data.

Catatan= Jumlah volume tetes harus konstan dengan menggunakan micropipet yang telah ditentukan volume tetes (drops) persekali analisis. Dengan demikian kita dapat menggunakan persamaan sebagai berikut :

Rata2 Sampel/tetes (# tetes)= total jumlah yang diamati/jumlah dari tiap  tetes.

Langkah ketiga : Menentukan jumlah dari tiap spesies dalam satuan kubik sampel (rata2 permeter kubik).

Yang harus diperhatikan :

1. Volume dari sampel air dari pengoleksian dgn plankton net dalam meter kubik. (Yang dikalkulasi dalam langkan pertama)

2. rata-rata jumlah dari tiap spesies pertetes (yang telah dikalkulasi pada langkah kedua)

3. Total jumlah dari tetes dalam sample yang dihitung (Jika diketahui 1 mL ada 20 tetes kita tinggal mengalikan kelipatan 20 tetes untuk tiap mL sampel atau untuk sederhananya adalah sampel yang dianalisis jumlahnya 20 tetes per mL ).

Persamaannya : Rata2sample/m3 : (#tetes x total tetes)/Volume

Kelimpahan Fitoplankton

Untuk mendapatkan kelimpahan plankton digunakan rumus yang dikemukakan oleh (Dahuri et all., 1993) sebagai berikut :

Keterangan :

 

N = Kelimpahan Plankton

Oi   = Luas Gelas penutup (mm2)

Op  = Luas satu lapang pandang (mm2)

Vo  = Volume satu tetes air sampel (ml)

V= Volume air yang tersaring dalam bucket (ml)

Vs  = Volume air yang tersaring oleh planktonet (ml)

n    = Jumlah plankton pada seluruh lapang pandang

p    = Jumlah lapang pandang

Komposisi Jenis Fitoplankton

Komposisi jenis plankton pada masing-masing stasiun dihitung dengan menggunakan rumus (Odum, 1996) sebagai berikut :

Keterangan :

Pi   = Persentase plankton jenis ke-i

ni   = Kelimpahan plankton jenis ke-i

N   = Kelimpahan total 3. Indeks Keanekaragaman (H’) Keseragaman (E) dan Dominansi (C)

Indeks Keanekaragaman

Analisis ini digunakan untuk mengetahui keanekaragaman jenis biota perairan. Persamaan yang digunakan untuk menghitung indeks ini adalah persamaan Shannon-Wiener.

Keterangan :

H’= -∑ Pi ln Pi

 

H’   = Indeks diversitas shannon-Wiener

Pi   = ni/N S = Jumlah spesies

ni   = Jumlah individu jenis ke-i

N   = Jumlah total individu

Dengan kriteria sebagai berikut :

H’<1     = Komunitas biota tidak stabil atau kualitas air tercemar berat

1<H’<3 = Komunitas biota sedang atau kualitas air tercemar sedang

H’>3     = Komunitas biota dalam kondisi prima (stabil) atau kualitas air                   bersih

Indeks Keseragaman

Indeks ini menunjukkan pola sebaran biota yaitu merata atau tidak. Jika nilai indeks kemerataan relatif tinggi maka keberadaan setiap jenis biota di perairan dalam kondisi merata.

Keterangan :

E = Indeks kemerataan

H’ = Indeks keanekaragaman

H’maks = ln S

S          = Jumlah spesies

Nilai indeks berkisar antara 0-1

Dengan kriteria sebagai berikut :

E = 0, Keseragaman antar spesies rendah, artinya kekayaan individu yang dimiliki masing-masing spesies sangat jauh berbeda.

E = 1, Keseragaman antar spesiea relatif seragam atau jumlah individu masing-masing spesies relatif sama.

Dominansi Spesies

Untuk mengetahui adanya dominansi jenis tertentu di perairan dapat menggunakan indeks dominansi Simpson (Odum, 1996) dengan persamaan berikut:

Keterangan :

= Indeks Dominansi Simpson

ni = Jumlah individu jenis ke-i

N  = Jumlah individu total

S  = Jumlah spesies

Indeks dominasi berkisar antara 0–1

Dengan kriteria sebagai berikut :

D = 0, Berarti tidak terdapat spesies yang mendominasi spesies lainnya atau struktur komunitas dalam keadaan stabil

D = 1, Berarti terdapat spesies yang mendominasi spesies lainnya atau struktur komunitas labil, karena terjadi tekanan ekologis (stres).

 

 

 

 

 

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran umu lokasi

Gambar 3. Lokasi Pengamatan

(Sumber : Dok. Pribadi, 2022)

Provinsi Sulawesi Tenggara terdiri dari 10 Kabupaten dan 2 Kota dimana Kota Kendari sebagai salah satu Kota yang ada pada Provinsi Sulawesi Tenggara.  Kota Kendari secara geografis terletak di jazirah Tenggara Pulau Sulawesi dengan wilayah darat sebagian besar berada di daratan Sulawesi mengelilingi Teluk Kendari dan terdapat satu pulau yaitu pulau Bungkutoko, secara geofrafis terletak di bagian selatan garis khatulistiwa, berada di antara 3054’30” - 403’11” Lintang Selatan dan 122023’ - 122039’ Bujur Timur. Luas Wilayah daratan Kota Kendari adalah 296.000 Km².

B. Hasil

Tabel 5. Hasil Tingkat Kelimpahan Plankton

NO

KELIMPAHAN

SUBSTRAT

EPIPHYTE

BADAN AIR

1

Lapang 1

111

18

35

2

Lapang 2

143

39

51

3

Lapang 3

111

64

54

4

Lapang 4

59

34

44

5

Lapang 5

73

36

37

 

Tabel 6. Hasil Tingkat Keanekaragaman Plankton

NO

KEANEKARAGAMAN

SUBSTRAT

EPIPHYTE

BADAN AIR

1

Lapang 1

1.34

0.34

1.61

2

Lapang 2

1.20

1.55

1.56

3

Lapang 3

1.25

1.15

1.50

4

Lapang 4

0.95

1.07

1.35

5

Lapang 5

1.17

0.69

1.29

 

Tabel 7. Hasil Tingkat Keseragaman Plankton

NO

KESERAGAMAN

SUBSTRAT

EPIPHYTE

BADAN AIR

1

Lapang 1

0.29

0.12

0.45

2

Lapang 2

0.24

0.42

0.40

3

Lapang 3

0.27

0.28

0.38

4

Lapang 4

0.23

0.30

0.36

5

Lapang 5

0.27

0.19

0.36

 

Tabel 8. Hasil Tingkat Dominansi Plankton

NO

DOMINANSI

SUBSTRAT

EPIPHYTE

BADAN AIR

1

Lapang 1

2.07

0.55

2.52

2

Lapang 2

2.07

2.05

0.51

3

Lapang 3

1.78

1.65

2.47

4

Lapang 4

0.97

0.97

1.89

5

Lapang 5

1.94

0.48

1.83

 

 C. Pembahasan

Plankton adalah suatu organisme yang berukuran kecil yang hidupnya terombang ambing oleh arus di laut bebas. Mereka terdiri dari makhluk-makhluk yang hidupnya sebagai hewan (zooplankton) dan sebagai tumbuhan (phytoplankton). Kecilnya ukuran plankton tidaklah mengandung arti bahwa mereka adalah organisme yang kurang penting. Mereka merupakan sumber makanan bagi ikan komersial yang penting yang hidup di lautan. Dengan kata lain, kelangsungan hidup ikan bergantung pada jumlah plankton yang ada. Ikan merupakan salah satu makanan penting bagi manusia, secara tidak langsung makanan yang kita makanpun tergantung pada mereka (Nurgaya, 2010).

Berdasarkan hasil pengamatan kelimpahan plankton pada bagian substrat, palnkton yang didapatkan tertinggi yaitu pada lapang 2 berniliai 143 ind/L dan yang terendah pada lapang 4 bernilai 59 ind/L, dan pada bagian epiphyte yang tertinggi yaitu pada lapang 3 bernilai 64 ind/L dan yang terendah pada lapang 1 bernilai 18 ind/L, dan pada bagian badan air yang tertinggi yaitu pada lapang 3 bernilai 54 ind/L dan yang terendah pada lapang 1 bernilai 35 ind/L. Tinggi rendahnya kelimpahan plankton pada perairan diduga dipengaruhi kecepatan arus. Hal ini sesuai dengan pernyataan Astuti et all (2012), yang menjelaskan bahwa melimpahnya plankton di suatu perairan dimungkinkan karena adanya arus yang membawa plankton yang menyebabkan melimpahnya plankton. Dan total dari semua lapang 1-5 plankton yang didapatkan pada bagian substrat, epiphyte, dan badan air berjumlah 891 ind/L. Dan dalam tingkat kelimpahan palnkton di perairan Kali Biru masuk dalam karateristik rendah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Soegianto (1994), yang menyatakan bahwa tingkat kelimpahan plankton pada karateristik yaitu < 1.000 ind/L : tingkat kelimpahan plankton rendah, 1.000 – 40.000 ind/L : tingkat kelimpahan plankton sedang, dan > 40.000 tingkat kelimpahan plankton tinggi.

Berdasarkan hasil pengamatan indeks keanekaragaman pada seluruh lapang bagian substrat dengan kisaran 0.95 – 1.34 ind/L, pada bagian epiphyte dengan kisaran 0.34 – 1.55 ind/L, dan pada bagian badan air berkisar 1.29 – 1.61 ind/L. Dan dari semua lapang 1 – 5 indeks keanekaragaman plankton pada bagian substrat, epiphyte, dan badan air termasuk kedalam kriteria keanekaragaman sedang, dan jika dihubungkan dengan kualitas air termasuk kedalam kriteria setengah tercemar. Hal ini sesuai dengan pernyataaan Stiling (1996), yang menyatakan bahwa indeks keanekaragaman plankton mempunyai kriteria yaitu H’ < 1 = Keanekaragaman rendah, 1 < H’ < 3 = Keanekaragaman sedang, dan H’ > 3 = Keanekaragaman tinggi,  jika nilai nilai indeks keanekaragaman (H’) dihubungkan dengan kualitas perairan yaitu > 3 = Tidak tercemar, 1 – 3 = Setengah tercemar, dan < 1 = Sangat tercemar.

Berdasarkan hasil pengamatan indeks keseragaman pada seluruh lapang bagian substrat dengan kisaran 0.23 – 0.29, pada bagian epiphyte berkisar 0.12 – 0.42, dan pada bagian badan air berkisar 0.36 – 0.45. Dan dari semua lapang 1 – 5 indeks keseragaman plankton pada bagian substrat, epiphyte, dan badan air dimana keseragaman tidak mendekati 1, yang berarti indeks keseragaman termasuk kriteria rendah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Odum (1993), yang menjelaskan bahwa indeks keseragaman yang diperoleh menunjukkan keseragaman penyebaran jumlah individu, indeks keseragaman yang mendekati 1 menunjukkan keseragaman antar spesies tergolong merata, sedangkan bila mendekati 0 menunjukkan bahwa keseragaman spesies tergolong rendah.

Berdasarkan hasil pengamatan indeks dominansi pada seluruh lapang bagian substrat dengan kisaran 0.97 – 2.07, pada bagian epiphyte berkisar 0.48 – 2.05, dan pada bagian badan air berkisar 0.51 – 2.52. Dan pada bagian substrat indeks dominansinya mendekati bahkan melewati 1. Indeks dominansi pada bagian substrat menunjukkan terdapat jenis yang mendominasi. Pada bagian epiphyte lapang 1 dan 5 indeks dominansinya mendekati 0 dan lapang 2, 3, dan 4 indeks dominansinya mendekati bahkan melewati 1. Indeks dominansi pada bagian epiphyte menunjukkan lapang 1 dan 5 tidak ada jenis yang mendominasi, sedangkan pada lapang 2, 3, dan 4 ada jenis yang paling mendominasi. Dan pada bagian badan air lapang 2 indeks dominansinya mendekati 0, dan pada lapang 1, 3, 4, dan 5 indeks dominansinya mendekati 1. Indeks dominansi pada bagian badan air menunjukkan lapang 2 tidak ada jenis yang mendomiasi, sedangkan pada lapang 1, 3, 4, dan 5 ada jenis yang paling mendominasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sumarto (2014), yang menjelaskan bahwa nilai indeks dominansi yang mendekati 0 menunjukkan tidak terdapat jenis yang mendominasi, sedangkan bila mendekati 1 menunjukkan terdapat jenis yang mendominasi di suatu perairan.


 

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

          Dari hasil pengamatan plankton yang ditemukan dapat disimpulkan sebagai berikut :

1.    Kelimpahan plankton yang didapatkan bahwa kelimpahan plankton di perairan Kali Biru termasuk kriteria rendah.

2.    Indeks keanekaragaman yang ditemukan di perairan Kali Biru masuk kedalam kriteria keanekaragaman sedang atau setengah tercemar.

3.    Indeks keseragaman yang ditemukan di perairan Bungkutoko, Kali Biru masuk kedalam kriteria sedang.

4.    Indkes dominansi yang ditemukan di perairan Bungkutoko, Kali Biru mempunyai kriteria berbeda pada beberapa lapang.

B. Saran

          Sebaiknya dalam praktikum semua anggota kelompok aktif dalam melakukan praktikum agar bisa lebih memahami apa yang menjadi tujuan dari praktikum, dan sebaiknya asisten lebih mengontrol lagi praktikannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Fisiologi Hewan Air : Moulting