Laporan Pencemaran Perairan
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pencemaran air adalah peristiwa masuknya zat, energi, unsur, dan komponen lainnya kedalam air sehingga menyebabkan kualitas air terganggu. Kualitas air yang terganggu ditandai dengan perubahan bau, rasa, dan warna. Sumber air semakin hari semakin tercemar karena pengolahannya melebihi kapasitasnya untuk diperbaharui. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan krisis air sehingga air membutuhkan pengolahan khusus yang membutuhkan biaya tinggi yang melewati jangkauan sumber daya ekonomi bagi kebanyakan negara. Dan suatu perairan dapat tercemar karena limbah yang bersumber dari limbah rumah tangga, limbah industri, limbah perternakan, limbah pertanian maupun limbah lain dari aktivitas manusia (Dawud et al., 2016).
Sungai, laut, dan danau merupakan tempat yang padat aktivitas dan berkontak langsung dengan perairan, sehingga sistem pengolahan limbah sangat penting untuk diperhatikan sehingga meminimalisir pencemaran yang terjadi pada air. Dan masuknya berbagai limbah organik maupun anorganik menyebabkan lingkungan sungai tidak mampu melakukan pulih diri (self purification). Self purification merupakan kemampuan perairan untuk membersihkan diri dari zat-zat atau bahan yang merugikan sehingga kondisi sungai tersebut dapat kembali seperti kondisi sebelumnya dan permasalahan utama yang dihadapi di perairan Teluk Kendari saat ini adalah semakin meingkat kualitas pencemaran di perairan tersebut (Putra et al., 2017).
Perairan Teluk Kendari merupakan salah satu aset Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara yang memiliki karakteristik unik. Salah satu keunikan yang menjadikan kawasan perairan ini berbeda dengan kawasan lain adalah kondisi fisik yang menyerupai suatu estuaria. Selain keunikan kondisi geografis tersebut, Teluk Kendari merupakan pintu gerbang Kota Kendari maupun Provinsi Sulawesi Tenggara dari arah laut dan Teluk Kendari mempunyai sumberdaya hayati dan non hayati yang kaya dan dapat mendukung kegiatan dalam bidang sumberdaya kelautan dan perikanan, maka serangkaian kegiatan pengukuran kualitas air laut perlu dilakukan agar apabila ada perubahan lingkungan dan kualitas air yang signifikan dan berdampak negatif terjadi maka dapat diketahui dan dapat diantispasi secara dini (Putra et al., 2017)
Berdasarkan uraian di atas maka sangat perlu dilakukan praktek lapang pencemaran perairan untuk mengetahui lebih jauh mengenai dampak pencemaran perairan.
B.Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktek lapang pencemaran perairan ini adalah :
a). Mampu mengidentifikasi berbagai sumber pencemaran.
b). Dapat menghitung beban pencemaran perairan dari berbagai sumber.
c). Dapat menetukan status pencemaran suatu badan air.
C. Manfaat Praktikum
Manfaat dari praktek lapang pencemaran perairan ini adalah :
a). Mahasiswa mampu mengidentifikasi berbagai sumber pencemaran.
b). Mahasiswa dapat menghitung beban pencemaran perairan dari berbagai sumber.
c). Mahasiswa dapat menetukan status pencemaran suatu badan air.
BAB II. TINAJUAN PUSTAKA
A. Konsep Pencemaran
Pencemaran dapat diartikan sebagai masuknya suatu mahluk hidup, zat cair atau zat padat, suatu energi atau komponen lain ke dalam lingkungan. Sehingga kualitas lingkungan menjadi turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan tidak berfungsi lagi sesuai dengan kegunaannya. Tercemarnya suatu lingkungan, dapat terjadi secara alami atau disebabkan oleh alam maupun adanya campur tangan manusia, akibatnya lingkungan mengalami penurunan akan kualitasnya (Fatmawati, 2016).
Meningkatnya aktivitas manusia, perubahan guna lahan dan semakin beragamnya pola hidup masyarakat perkotaan yang menghasilkan limbah domestik menjadikan beban pencemar di sungai semakin besar dari waktu ke waktu. Penurunan kualitas air terjadi sebagai akibat pembuangan limbah yang tidak terkendali dari aktivitas pembangunan di sepanjang sungai sehingga tidak sesuai dengan daya dukung sungai (Masrun et al., 2016).
B. Pencemaran Teluk Kendari dan Sungai (Muara)
Kota Kendari yang berada di bibir teluk sangat tergantung dengan kelestarianteluk itu sendiri agar tetap menjadi kota teluk yang indah dan sehat. Keberadaan teluk yang berdampingan dengan Kota Kendari sangat memberi manfaat baik dari segi panorama ataupun hasil laut yang terkandung dalam lingkungan teluk. Hasil laut yangberupa biota yang ada di teluk Kendari umumnya seperti ikan serta kerang juga dikonsumsi oleh warga. Atas fakta yang terjadi di teluk Kendari tersebut selain mengancam ekosistenyang ada juga terhadap masyarakat yang mengambil manfaat dari hasil laut di Teluk Kendari. Dengan mengkonsumsi hasil laut yang tercemar jelas akan berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Menyadari potensi bahaya tersebut maka menarik untukmelakukan penelitian berupa analisis hukum atas pembuangan air limbah domestik terkait pencemaran di Teluk Kendari (Sahabuddin et al., 2014).
Aliran air di Sultra melalui beberapa sungai besar yang tersebar di empat kabupaten dan sebagian besar bermuara ke pesisir imur Perairan Kendari dan Laut Banda. Sungai-sungai tersebut antara lain adalah Sungai Lasolo, Sungai Roraya, Sungai Sampolawa, Sungai Wandasa, Sungai Kabangka Balano dan Sungai Laeya. Aliran sungai-sungai tersebut melintasi berbagai kawasan, antara lain kawasan permukiman, pertanian dan industri/pertambangan, sehingga banyak membawa lumpur/sedimen dan kontaminan yang bersifat toksik ke Perairan Teluk Kendari Logam berat yang terakumulasi di perairan dapat mengkontaminasi manusia melalui rantai makanan. Logam berat dalam kadar yang rendah dibutuhkan oleh organisme perairan, namun dalam kadar tinggi yang melebih nilai ambang batas dapat bersifat racun dan mengganggu kesehatan (Wibowo et al., 2020).
C. Kualitas Air
Kualitas air adalah sifat air dan kandungan mahkluk hidup, zat energi atau komponen lain dalam air. Kualitas air merupakan istilah yang menggambarkan kesesuaian atau kecocokan air untuk penggunaan tertentu, misalnya air minum, perikanan, pengairan/irigasi, industri, rekreasi, dan sebagainya. Kualitas air dinyatakan dengan beberapa parameter yaitu paremeter fisika dan peremeter kimia (Sulistyorini et al., 2016).
Kualitas air secara umum menunjukkan mutu atau kondisi air yang dikaitkan dengan suatu kegiatan atau keperluan tertentu. Dengan demikian kuaitas air akan berbeda dari suatu kegiatan ke kegiatan yang lain, sebagai contoh kualitas air untuk keperluan irigasi berbeda dengan kualitas air untuk keperluan air minum. Kuantitas atau jumlah air umumnya dipengaruhi oleh lingkungan fisik daerah seperti hujan, topografi, dan jenis batuan sedangkan kualitas air sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial seperti kepadatan penduduk dan kepadatan sosial (Agustiningsih et al., 2012).
D. Paremeter Fisika
1. Suhu
suhu adalah ukuran panas atau dingin yang dinyatakan dengan skala sembarang. Di mana skala tersebut menunjukkan bahwa suhu panas yang memiliki energi tinggi akan mengalir ke suhu yang lebih rendah atau dingin. Maka dari itu, suhu dapat dinyatakan pula menjadi ukuran kualitatif sebuah benda. Suhu ini bisa diukur karena adanya energi kinetik dalam suatu benda. Jadi, semakin besar energi kinetik suatu benda, suhunya akan semakin tinggi (Patty, 2013).
Suhu optimum habitat hidup organisme berkisar 24-28 oC dengan kandungan oksigen terlarut di perairan 3-5 ppm dan pH 7-8. Kepekaannya yang rendah terhadap senyawa-senyawa beracun dalam air merupakan nilai lebih dari biota karena kebanyakan organisme akan mati pada kadar CO2 terlarut sebesar 15 ppm (Faturohman dan Nurruhwati, 2016).
Suhu air juga akan mempengaruhi kekentalan (viskositas) air. perubahan suhu air yang drastis dapat mematikan biota air karena terjadi perubahan daya angkut darah. Suhu berkaitan erat dengan konsentrasi oksigen terlarut dalam air dan konsumsi oksigen. Pergantian atau pencampuran air merupakan cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi pengaruh suhu tinggi. Pergantian air yang diupayakan untuk pengenceran metabolit sekaligus dapat mempengaruhi pengaruh suhu tinggi (Hamuna et al., 2018).
2. Salinitas
Salinitas adalah salah satu paremeter lingkungan yang mempengaruhi proses biologi dan secara langsung akan mempengaruhi kehidupan organisme antara lain yaitu mempengaruhi laju pertumbuhan, jumlah makanan yang dikomsumsi, nilai konversi makanan, dan daya kelangsungan hidup (Patty, 2013).
Salinitas air dapat dilakukan pengukuran dengan menggunakan alat yang disebut dengan Refraktometer atau salinometer (alat pengukur salinitas air). Satuan untuk pengukuran salinitas air adalah satuan gram per kilogram (PPT) atau promil (o/oo). Nilai salinitas air untuk perairan tawar biasanya berkisar antara 0-5 ppt, salinitas perairan payau biasanya berkisar antara 6-29 ppt, dan salnitas perairan laut berkisar antara 30-35 ppt (Amri et al., 2018).
Salinitas adalah kadar garam terlarut dalam air. Salinitas merupakan bagian dari sifat fisik dan kimia suatu perairan, selain suhu, pH, substrat dan lain-lain. Salinitas menggambarkan padatan total di dalam air. Salinitas perairan menggambarkan kandungan garam dalam suatu perairan. Garam yang dimaksud adalah berbagai ion yang terlarut dalam air termasuk garam dapur (NaCl). Pada umumnya salinitas disebabkan oleh 7 ion utama yaitu natrium (Na), klorida (Cl), kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K), sulfat (SO4) dan bikarbonat (HCO3). Salinitas air dapat dilakukan pengukuran dengan menggunakan alat yang disebut dengan Refraktometer atau salinometer (alat pengukur salinitas air). Satuan untuk pengukuran salinitas air adalah satuan gram per kilogram (PPT) atau promil (o/oo). Nilai salinitas air untuk perairan tawar biasanya berkisar antara 0-5 ppt, salinitas perairan payau biasanya berkisar antara 6-29 ppt, dan salnitas perairan laut berkisar antara 30-35 ppt (Amri et al., 2018).
E. Paremeter Kimia
1. Nitrat
Nitrat yaitu bentuk utama nitrogen diperairan alami yang merupakan salah satu nutrien utama bagi pertumbuhan algae. Nitrat bersifat stabil dan mudah larut dalma air. Senyawa nitrat dihasilkan dari proses oksidasi sempurna senyawa nitrogen di perairan. nitrat berasal dari limbah pertanian, pupuk, kotoran hewan, manusia, dan sebagainya. Nitrat dibutuhkan sebagai sumber energi atau nutrien yang digunakan oleh organisme. Sumber utama nitrat dapat berasal dari proses penguraian, pelapukan., dekomposisi tumbuhan, sisa-sisa sisasisa organisme mati, buangan limbah daratan yang akan terurai oleh bakteri menjadi zat hara. Zat hara tersebut akan dimanfaatkan oleh tanaman laut untuk pertumbuhan dan perkembangannya (Sari et al., 2015).
Kadar nitrat yang cukup untuk pertumbuhan organisme berkisar antara 0,3 sampai 0,9 mg/l. Apabila melebihi 3,5 mg/l akan membahayakan perairan. hal yang dapat memicu terjadinya eutrofikasi adalah perairan dengan kadar nitrat lebih dari 0,2 mg/l sehingga mengakibatkan pertumbuhan fitoplankton dengan cepat (blooming). Kenaikan nitrat disebabkan adanya oksigen yang tinggi. Hal ini dikarenakan memicu banyaknya proses nitrifikasi. Menurut Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur nomor 2 tahun 2011 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air, nilai baku mutu untuk keperluan perikanan adalah 20 mg/l. kadar nitrat yang lebih dari 5 mg/l menggambarkan telah terjadinya pencemaran. konsentrasi rata-rata nitrit tertinggi (Firmansyah et al., 2016)
2. Fosfat
Fosfat adalah bentuk fosfor yang dapat di manfaatkan oleh tumbuhan dan merupakan unsur esensial bagi tumbuhan tingkat tinggi dan alga shingga dapat mempengaruhi tingkat produktivitas perairan. Sumber fosfor di perairan dan sedimen adalah deposit fosfat, dan penggundulan hutan. Fosfat di perairan secara alamiah berasal dari pelapukan batuan mineral dan dekmposisi bahan organik. Sedimen merupakan tempat penyimpanan utama fosfor dalam siklus yang terjadi di lautan. Umumnya dalam bentuk partikulat yang berikatan dengan oksida besi dan senyawa hidroksida. Senyawa fosfor yang terikat di sedimen dapat mengalami dekomposisi dengan bantuan bakteri maupun melalui proses abiotik menghasilkan senyawa fosfat yng terlarut yang dapat mengalami difusi kembali ke dalam kolom air. Ketika fosfat di badan air berada dalam jumlah berlebihan, fosfat akan kembali terdeposisi ke dalam pori sedimen melalui proses sidementasi, adsorbsi, dan presipetasi. Dengan demikian, sedimen disuatu perairan memiliki peranan penting terhadap proses eutrofikasi karena bertindak sebagai sumber dan penampung fosfat (Patricia et al., 2018).
Secara umum kandungan fosfat di lapisan dasar adalah lebih tinggi dibandingkan lapisan permukaan, dimana rata-rata kandungan fosfat di permukaan adalah sebesar 0,11 g-at P/L, sedangkan rata-rata di lapisan dasar sebesar 0,14 g-at P/L. Seperti halnya pada nitrat, tingginya kandungan fosfatdi dasar perairan karena dasar perairan umumnya kaya akan unsur hara, baik yang berasal dari dekomposisi sedimen maupun senyawa-senyawa organik yang berasal dari jasad flora maupun fauna yang mati (Ngibad, 2019).
3. pH
Derajat keasaman (pH) merupakan suatu parameter penting untuk menentukan kadar asam/basa dalam air. Nilai pH menyatakan nilai konsentrasi ion hidrogen dalam suatu larutan. Kemampuan air untuk mengikat atau melepas sejumlah ion Hidrogen akan menunjukkan apakah larutan tersebut bersifat asam/ basa. Di dalam air yang bersih jumlah konsentrasi ion H+ dan OH- berada dalam keseimbangan, sehingga air yang bersih akan bereaksi normal. Peningkatan ion hidrogen akan menyebabkan nilai pH turun dan disebut sebagai larutan asam. Sebaliknya apabila ion hidrogen berkurang akan menyebabkan nilai pH naik dan keadaan ini disebut sebagai larutan basa. Nilai pH yang ideal untuk mendukung kehidupan organisme aquatik pada umumnya terdapat antara 7-8,5 (Rukminasari et al., 2014).
pH air mempengaruhi tingkat kesuburan perairan karena mempengaruhi kehidupan jasad renik perairan asam atau kurang produktif. Malah dapat menumbuhkan hewan budidaya. Sedangkan, pH rendah ( keasaman yang tinggi ) kandungan oksigen terlarut akan berkurang. Hal yang sebaliknya menjadi pada suasana basa . Atas dasar ini maka usaha budidaya di perairan akan berhasil baik dalam air dengan pH 6,5 – 9,0 dan kisaran optimal pH 7,8 – 8,7 (Umar dan Novita, 2014).
4. BOD
Oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan tanaman dan hewan di dalam air. Kehidupan makhluk hidup di dalam air tersebut tergantung dari kemampuan air untuk memeprtahankan konsentrasi oksigen minimal yang dibutuhkan untuk kehidupannya. Biota air hangat memerlukan oksigen terlarut minimal 5 ppm, sedangkan biota air dingin memerlukan oksigen terlarut mendekati jenuh. Konsentrasi oksigen terlarut minimal untuk kehidupan biota tidak boleh kurang dari 6 ppm (Nurzamzanillyas dan Iqbal, 2014).
BOD atau Biochemical Oxygen Demand adalah suatu karakteristik yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme (biasanya bakteri) untuk mengurai atau mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerob. BOD sebagai suatu ukuran jumlah oksigen yang digunakan oleh populasi mikroba yang terkandung dalam perairan sebagai respon terhadap masuknya bahan organik yang dapat diurai. Pengertian ini dapat dikatakan bahwa walaupun nilai BOD menyatakan jumlah oksigen, tetapi untuk lebih mudahnya dapat juga diartikan sebagai gambaran jumlah bahan organik mudah urai (biodegradable organics) yang ada di perairan (Malhotra, 2015).
5. DO
Oksigen terlarut (DO) merupakan parameter yang penting dalam menentukan kualitas perairan. DO berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik dan anorganik, seperti diketahui bahwa DO dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Disamping itu, DO juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik. Dalam kondisi aerobik, peranan oksigen adalah untuk mengoksidasi bahan organik dan anorganik dengan hasil akhirnya adalah nutrien yang dapat memberikan kesuburan perairan. Dalam kondisi anaerobik, oksigen yang dihasilkan akan mereduksi senyawa-senyawa kimia menjadi lebih sederhana dalam bentuk nutrien dan gas (Ariadi et al., 2021).
Kandungan oksigen terlarut di dalam air merupakan salah satu penentu karakteristik kualitas air yang terpenting dalam kehidupan organisme aquatik. Pada saat pengambilan sampel air, konsentrasi oksigen terlarut mewakili status kualitas air tersebut. Dan adapun sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan. Kecepatan difusi oksigen dari udara, dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara seperti arus, gelombang dan pasang surut. Semakin tinggi suhu dan salinitas yang dimiiki sebuah perairan maka perairan tersebut akan memiliki nilai DO yang rendah, demikian sebaliknya nilai DO akan tingi jika perairan tersebut memiliki suhu dan salinitas yang rendah. Demikian juga terhadap lapisan permukaan air nilai DO suatuperairan akan semakin rendah seiring dengan bertambahnya ke dalam perairan (Patty, 2015).
6. TSS
Total suspended solit atau padatan tersuspensi (TSS) adalah residu dari padatan total yang tertahan oleh saringan dengan ukuran partikel masksimal 2 µm atau lebih besar dari ukuran partikel koloid. TSS menyebabkan kekeruhan pada air akibat padatan tidak terlarut dan tidak dapat langsung mengendap. TSS terdiri dari partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecil dari sendimen, misalnya tanah liat, bahan-bahan organik tertentu, sel-sel mikroorganisme, dan sebagainya (Riniatsih, 2016).
TSS merupakan tempat berlangsungnya reaksi-reaksi kimia yang heterogen, dan berfungsi sebagai bahan pembentuk endapan yang paling awal dan dapat menghalangi kemampuan produksi zat organik di suatu perairan. Dan kekeruhan sendiri merupakan kecenderungan ukuran sampel untuk menyebarkan cahaya. Sementara hamburan diproduksi oleh adanya partikel tersuspensi dalam sampel. Kekeruhan adalah murni sebuah sifat optik (Jewlaika et al., 2014).
7. TDS
Total Dissolve Solid (TDS) yaitu ukuran zat terlarut (baik itu zat organik maupun anorganik) yang terdapat pada sebuah larutan. TDS menggambarkan jumlah zat terlarut dalam part per milion (ppm) atau sama dengan miligram per liter (mg/L). umumnya berdasarkan definisi diatas seharusnya zat yang terlarut dalam air (larutan) harus dapat melewati saringan yang berdiameter 2 micrometer (2 x 10-6 meter). Aplikasi yang umum digunakan adalah untuk mengatur kualitas cairan pada pengairan, pemeliharaan aquarium, kolam renang, proses kimia, pembuatan air mineral, dan lain-lain (Ismawati et al., 2017).
Total Dissolved Solid (TDS) atau padatan terlarut adalah padatan-padatan yang mempunyai ukuran lebih kecil dari padatan tersuspensi. Bahan-bahan terlarut pada perairan alami tidak bersifat toksik, akan tetapi jika berlebihan dapat meningkatkan nilai kekeruhan yang selanjutnya akan menghambat penetrasi cahaya matahari ke dalam air dan akhirnya berpengaruh terhadap proses fotosintesis diperairan. Tingginya kadar TDS apabila tidak dikelola dan diolah dapat mencemari badan air. Selain itu juga dapat mematikan kehidupan aquatik, dan memiliki efek samping yang kurang baik pada kesehatan manusia karena mengandung bahan kimia dengan konsentrasi yang tinggi antara lain fosfat, surfaktan, ammonia, dan nitrogen serta kadar padatan tersuspensi maupun terlarut, kekeruhan, BOD5, dan COD yang tinggi (Kustiyaningsih dan Irawanto, 2020).
BAB III. METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktek lapang Pencemaran Perairan dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 12 Juni 2022 pukul 09.00 WITA-selesai bertempat di Tracking Mangrove Kec.Lahundape, Kota Kendari, Selawesi Tenggara. Sampel perairan diambil dan dianalisis lebih lanjut pada hari Kamis,15 Juni 2022 pukul 08.00 - selesai. Bertempat di Laboratorium Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Halu Oleo, Kendari.
B. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang di gunakan dalam praktikum pencemaran perairan dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini :
Tabel 1. Alat dan bahan yang digunakan saat praktikum pencemaran perairan
No | Alat dan bahan | Satuan | Kegunaaan |
1 | Alat |
|
|
| - Refraktometer | ppt | Untuk mengukur salinitas |
| - Thermometer | °C | Untuk mengukur suhu |
| - Indikator pH | unit | Untuk mengukur nilai pH |
| - Botol Uc | unit | Sebagai wadah sampel air |
| - Botol Aqua | unit | Sebagai wadah sampel air |
| - Kertas Saring | Unit | Sebagai penyaring sampel |
| - Corong Kecil | unit | Wadah tempat penyaringan sampel |
| - Alat Tulis | - | Untuk mencatat hasil |
| - Kertas Label | unit | Memberi keterangan pada sampel |
| - Lakban Hitam | unit | Untuk menutup semua bagian wadah sampel |
2 | Bahan |
|
|
| - Larutan MnSO4 | ml | Sebagai pengawet oksigen sampel air |
| - Larutan H2SO4 | ml | Sebagai pengatur keasaman sampel air |
| - Natrium Azida | ml | Mempercepat proses endapan sampel Do dalam botol sampel |
Tabel 2. Alat dan bahan yang digunakan saat praktikum di laboratorium
No | Alat dan bahan | Satuan | Kegunaaan |
1 | Alat |
|
|
| - Gelas Ukur | ml | Mengukur volume air |
| - Pipet Tetes | unit | Mengambil sampel air |
| - Aquades | unit | Pengencer larutan |
| - Gelas Beker | unit | Tempat mereaksikan bahan |
| - Botol sampel | unit | Sebagai wadah DO, TSS, BOD, Nitrat ,Fosfat |
| - Hot Plate | unit | Untuk memanaskan larutan |
| - Vortex Mixcer | unit | Untuk mencampur larutan yabg ada dalam tabung reaksi |
| - Alat Tulis | - | Untuk mencatat hasil pengamatan |
| - Rubbel bulb | unit | Untuk membantu larutan kimia |
|
|
|
|
2 | Bahan |
|
|
| - Larutan MnSO4 | ml | Larutan pengikat oksigen |
| - Larutan H2SO4 | ml | Larutan uji |
| - Natrium Azida | ml | Larutan pengikat oksigen |
| - Kanji | ml | Larutan uji |
| - Natrium triosulfat | ml | Larutan titrasi |
| - Kertas saring | unit | Menyaring sampel air |
C. Prosedur Kerja
Prosedur pengambilan sampel DO, BOD, Nitrat, Fosfat, TDS, dan TSS adalah sebagai berikut :
1. (DO) Dissolved Oxygen
- Siapkan alat dan bahan yang berupa botol UC 1 buah dan air laut sebagai sampel
- Masukkan botol UC dalam badan air sampai penuh usahakan tidak ada gelembung yang masuk didalam nya
- Kemudian tutup rapat penutup botol
- Terakhir berilah label nama, pukul dan stasiun tempat pengambilan sampel
2. (BOD) Biological Oxygen Demand
- Siapkan alat dan bahan yang berupa botol UC 2 buah dan air laut sebagai sampel.
- Masukkan botol UC dalam badan air sampai penuh usahakan tidak ada gelembung yang masuk didalam nya.
- Kemudian tutup rapat penutup botolnya kemudian satu botol uc beri lakban hitam pada seluruh bagian botol nya hingga tidak ada cahaya yang masuk dan satu botol uc yang tidak diberi lakban.
- Terakhir berilah label nama, pukul dan stasiun tempat pengambilan sampel.
3. TSS (Total Suspended Solid)
- Siapkan alat dan bahan yang berupa botol aqua 600 ml 1 buah dan air laut sebagai sampel
- Masukkan botol di dasar perairan sampai penuh usahakan tidak ada gelembung yang masuk didalamnya.
- Kemudian tutup rapat penutup botol.
- Terakhir berilah label nama, pukul dan stasiun tempat pengambilan sampel.
4. TDS (Total Dissolved Solid)
- Menimbang terlebih dahulu cawan petri menggunakan timbangan analitik
- Mencatat hasil timbangan
- Mengambil sampel TDS masing-masing sebanyak 15 ml lalu dimasukkan kedalam cawan petri
- Memasukkan cawan petri ke dalam oven dengan suhu 105oC.
- Menimbang kembali sampel yang sudah kering menggunakan timbangan analitik
- Mencatat kembali hasil timbangannya.
5. Nitrat
- Siapkan alat dan bahan yang berupa botol UC 1 buah dan air laut sebagai sampel.
- Masukkan botol UC dalam badan air sampai penuh usahakan tidak ada gelembung yang masuk didalam nya.
- Kemudian tutup rapat penutup botol.
- Terakhir berilah label nama, pukul dan stasiun tempat pengambilan sampel.
6. Fosfat
- Siapkan alat dan bahan yang berupa botol UC 1 buah dan air laut sebagai sampel.
- Masukkan botol dalam badan air sampai penuh usahakan tidak ada gelembung yang masuk didalam nya,
- Saring sampel air menggunakan kertas saring
- Kemudian tutup rapat penutup botol.
- Terakhir berilah label nama, pukul dan stasiun tempat pengambilan sampel.
D. Analisis Data
1. Nitrat
Nitrat dapat dihitung dengan menggunakan metode Brucine (Hariyadi et al., 1991).
N = ![]()
Dimana n = :
Keterangan :
Mg nitrat : jumlah sampel nitrat yang diuji
Mg sampel : jumlah total sampel nitrat
2. Fosfat
Analisis fosfat dilakukan dengan metode Spektrofometri UV-Vis (Ngibad, 2019).
P
= ![]()
Keterangan
mg fosfat : jumlah sampel fosfat yang diuji
mg sampel : jumlah total sampel fosfat
3. DO
DO dapat dihitung dengan menggunakan rumus Modifikasi Winkler :
DO = F1 x F2 x ml titrasi x 4
Dimana:
F1 =
F2 =
4. BOD
BOD dapat dihitung dengan menggunakan rumus
BOD = DOₒ − DO₅
Keterangan
DOo : DO awal
DO5 : DO akhir
5. TSS
TSS dapat dihitung dengan menggunakan metode Grafimetri Apha 2007 dimana untuk mengetahui sebaran nilai TSS diperairan, maka sampel yang diperoleh dianalisis dengan rumus menurut Badan Standardisasi Nasional (2004).
TSS (mg/L) =
× 1000
Keterangan
TSS : Total Suspended Solid (mg/l)
A : berat kertas saring + residu kering (mg)
B : berat kertas saring (mg)
ml sampel : jumlah total sampel
6. TDS
TDS dapat dihitung dengan menggunakan metode Grafimetri, (Apha 2007)
TDS (mg/L) =
× 1000
Keterangan
TDS : Total Dissolved Solid (mg/l)
A : berat kertas saring + residu kering (mg)
B : berat kertas saring (mg)
ml sampel : jumlah total sampel
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi
Teluk Kendari terletak di tengah Kota Kendari, memiliki luas ± 10,84 km2 dan memiliki panjang garis pantai ± 35,85 km. Secara geografis Teluk Kendari berada pada koordinat 3˚58’3”– 4˚3’11’’LS dan 122˚32’’– 122˚36’’BT dengan batasan wilayah sebagai berikut:
1. Bagian Utara berbatasan dengan Kecamatan Kendari dan Kendari Barat,
2. Bagian Timur berbatasan dengan Pulau Bungkutoko,
3. Bagian Selatan berbatasan dengan Kecamatan Poasia dan Abeli serta
4. Bagian Barat berbatasan dengan Kecamatan Mandonga dan Kambu.
![]() |
Gambar 1. Lokasi Praktikum
(Sumber : Dok. Google Earth, 2022)
B. Hasil
A. Hasil pengamatan
Ø Pengamatan parameter fisika
Hasil pengamatan parameter fisika yang diperoleh dapat dilihat seperti gambar berikut :
Gambar 2. Diagram Paremeter Suhu
Gambar diagram 3. Diagram Parameter salinitas
![]() |
Gambar diagram 4. Diagram parameter TSS
Gambar 4. Diagram TSS
![]() |
Gambar 5. Diagram TDS
Ø Pengamatan parameter kimia
Hasil pengamatan parameter kimia yang diperoleh dapat dilihat seperti gambar berikut :
No. | Parameter | Satuan | Hasil |
1. | DO (Dissolved Oxygen) | mg/1 | 2,38 |
2. | BOD (Biological Oxygen Demand) | mg/1 | 2,17 |
3. | Nitrat | mg/1 | 0,243 |
4. | Fosfat | mg/1 | 0,054 |
5. | pH | - | 6 |
C. Pembahasan
Hasil pengukuran salinitas di perairan Teluk Kendari tidak terlalu berbeda jauh antar stasiun pengamatan (12 ‰) dan dapat dikatakan bahwa nilai yang didapatkan bersifat heterogen dengan variasi nilai yang tidak terlalu besar. Berdasarkan baku mutu air laut dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 tahun 2004, sebagian besar nilai salinitas pada stasiun pengamatan masih sesuai dengan baku mutu air laut untuk biota laut. Hal ini sesuai dengan Dahuri et al., (2015) yang menyatakan bahwa, salinitas tersebut tidak berbeda jauh dengan nilai salinitas perairan Indonesia, dimana secara umum permukaan perairan Indonesia ratarata berkisar antara 32 – 34‰.
Hasil pengukuran suhu permukaan laut langsung secara langsung di lapangan (insitu), diperoleh bahwa suhu perairan Teluk Kendari yang relatif sama yaitu berkisar antara 27,5 °C. Berdasarkan baku mutu air laut untuk biota laut dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 tahun 2004, maka suhu perairan Teluk Kendari masih berada dalam batas normal dan sesuai dengan kebutuhan untuk metabolisme biota laut dan ekosistem pesisir laut seperti karang, lamun dan mangrove. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hamuna et al., (2015) yang menyatakan bahwa, pada umumnya suhu permukaan perairan adalah berkisar antara 28 – 31°C. Dan sejalan dengan Pernyataan Hamuna et al., (2018) yang menyatakan bahwa, suhu yang dapat di tolerir oleh organisme laut pada suatu perairan berkisar (25oC – 31oC).
Hasil pengukuran DO pada stasiun pengamatan berkisar antara 2,38 mg/l. Pada setiap stasiun pengambilan data, nilai DO yang diperoleh menandakan perairan dalam kondisi sangat baik, dan masih memenuhi standar baku mutu air laut dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 tahun 2004 untuk kehidupan biota laut dengan nilai DO >5 mg/l, sehingga konsentrasi DO di perairan Depapre masih tergolong masih sesuai untuk biota laut. Hal ini sesuai dengan pernyataan Silalahi et al., (2017) yang menyatakan bahwa, sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut, selain dari proses difusi dari udara bebas. Dan Oleh karena itu, berdasarkan konsentrasi DO yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa dari nilai DO perairan laut Depapre tergolong dalam kategori tingkat pencemaran rendah dengan nilai DO >5 mg/l.
Hasil pengukuran BOD pada stasiun pengamatan berkisar 2,17 mg/l. Nilai BOD yang diperoleh masih berada dibawah standar maksimum BOD yang dianjurkan untuk biota laut dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 tahun 2004 untuk kehidupan biota laut dengan nilai maksimal 20 mg/l. Hal ini sesuai dengan Erari et al., (2012) yang menyatakan bahwa, Semakin tingginya konsentrasi BOD mengindikasikan bahwa peraian tersebut telah tercemar, sedangkan konsentrasi BOD yang tingkat pencemarannya masih rendah dan dapat dikategorikan sebagai perairan yang baik. Tingkat pencemaran rendah jika nilai BOD 0 – 10 mg/l, sedangkan tingkat pencemaran sedang jika nilai BOD 10 – 20 mg/l.
Berdasarkan hasil analisis, konsentrasi kandungan fosfat pada stasiun pengukuran berkisar 0,243 mg/l. Nilai tersebut menandakan bahwa kandungan fosfat di perairan Teluk Kendari telah melebihi standar baku mutu air laut untuk biota laut sebagaimana dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 tahun 2004, yaitu 0,015 mg/l. Kondisi tersebut dapat berbahaya bagi biota laut yang hidup dalam perairan Teluk Kendari dan bisa menyebabkan eutrofikasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Anhwange (2012), yang menyatakan bahwa tingkat maksimum fosfat yang disarankan untuk sungai dan perairan yang telah dilaporkan adalah 0,1 mg/l. Perairan yang nilai fosfatnya lebih dari 0.1 mg/l sebagai perairan eutrof, dimana perairan ini sering terjadi blooming fitoplankton.
Hasil analisis menunjukkan bahwa konsentrasi nitrat di stasiun pengukuran berkisar 0,054 mg/l. Berdasarkan baku mutu kandungan nitrat di perairan dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 tahun 2004, maka kandungan nitrat di perairan Teluk Kendari sebagian besar telah melebihi baku mutu, dimana standar baku mutu konsentrasi nitrat untuk biota laut adalah 0,008 mg/l. Hal ini sesuai dengan pernyataan Efendi (2013) yang menjelaskan bahwa, konsentrasi nitrat-nitrogen yang lebih dari 0,2 mg/l dapat mengakibatkan terjadinya eutrofikasi (pengayaan) perairan dan selanjutnya menstimulir pertumbuhan algae dan tumbuhan air secara pesat (blooming).
Hasil analisis menunjukkan bahwa pH distasiun pengamatan yang didapatkan adalah 6. pH yang didapatkan di perairan Teluk Kendari kurang stabil. Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 tahun 2004, pH perairan Teluk kendari lebih rendah dari baku mutu yang dianjurkan untuk biota laut (7 - 8,5). Hal ini sesuai dengan pernyataan Silalahi et al., (2017) yang menyatakan bahwa, pH air laut relatif lebih stabil dan biasanya berada dalam kisaran 7,5 dan 8,4, kecuali dekat pantai. Nilai pH yang ideal bagi perairan adalah 7 – 8,5. Kondisi perairan yang sangat basa maupun sangat asam akan membahayakan kelangsungan hidup organisme karena akan mengganggu proses metabolisme dan respirasi.
Hasil analisi menunjukkan bahwa nilai konsentrasi TSS pada perairan Teluk Kendari yang didapatkan adalah 1.386 mg/l. Konsentrasi TSS pada perairan Teluk kendari telah melewati baku mutu KEP. MENLH No.51 tahun 2004 yaitu 80 mg/l. Hal ini sesuai dengan pernyataan Irawati (2013) yang menyatakan bahwa, penyebab tingginya TSS salah satunya di pengaruhi oleh asupan material dari daratan yang terbawa melalui aliran sungai dan nilai TSS menunjukkan penurunan ke arah laut.
Hasil analisi menunjukkan bahwa nilai konsentrasi TDS pada perairan Teluk Kendari yang didapatkan adalah 49.1795 mg/l. Dan dapat dikatakan tidak melebihi baku mutu PPRI No. 22 Tahun 2021 yaitu 0 – 100.000 mg/l. Hal ini sesuai dengan pernyataan Silalahi et al., (2017) yang menyatakan bahwa, TDS berasal dari ion-ion yang ada didalam air dan terdiri dari zat organik, garam organik, dan gas terlarut. Apabila nilai TDS bertambah maka kesadahan air pun juga bertambah.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang didapatkan dari praktikum Pencemaran Perairan yaitu :
1. Salinitas di perairan Teluk Kendari tidak terlalu berbeda jauh antar stasiun pengamatan (12 ‰) dan dapat dikatakan bahwa nilai yang didapatkan bersifat heterogen dengan variasi nilai yang tidak terlalu besar.
2. Suhu permukaan laut langsung secara langsung di lapangan (eks situ), diperoleh bahwa suhu perairan Teluk Kendari yang relatif stabil yaitu berkisar antara 27,5 °C. Berdasarkan baku mutu air laut untuk biota laut dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 tahun 2004, maka suhu perairan Teluk Kendari masih berada dalam batas normal.
3. DO pada stasiun pengamatan berkisar 2,38 mg/l. Pada setiap stasiun pengambilan data, nilai DO yang diperoleh menandakan perairan dalam kondisi sangat baik.
4. BOD pada stasiun pengamatan berkisar 2,17 mg/l. Nilai BOD yang diperoleh masih berada dibawah standar maksimum BOD yang dianjurkan untuk biota laut dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 tahun 2004 untuk kehidupan biota laut dengan nilai maksimal 20 mg/l.
5. Konsentrasi kandungan fosfat pada stasiun pengukuran berkisar 0,243 mg/l. Nilai tersebut menandakan bahwa kandungan fosfat di perairan Teluk Kendari telah melebihi standar baku mutu air laut.
6. Konsentrasi nitrat di stasiun pengukuran berkisar 0,054 mg/l. Berdasarkan baku mutu kandungan nitrat di perairan dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 tahun 2004, maka kandungan nitrat di perairan Teluk Kendari sebagian besar telah melebihi baku mutu.
7. pH distasiun pengamatan yang didapatkan adalah 6. pH yang didapatkan di perairan Teluk Kendari kurang stabil. Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 tahun 2004, pH perairan Teluk kendari lebih rendah dari baku mutu yang dianjurkan untuk biota laut (7 - 8,5).
8. Nilai konsentrasi TSS pada perairan Teluk Kendari yang didapatkan adalah 1.386 mg/l. Konsentrasi TSS pada perairan Teluk kendari telah melewati baku mutu KEP. MENLH No.51 tahun 2004 yaitu 80 mg/l.
9. Bahwa nilai konsentrasi TDS pada perairan Teluk Kendari yang didapatkan adalah 49.1795 mg/l. Dan dapat dikatakan tidak melebihi baku mutu PPRI No. 22 Tahun 2021 yaitu 0 – 100.000 mg/l.
B. Saran
Sebaiknya dalam praktikum semua anggota kelompok aktif dalam melakukan praktikum agar bisa lebih memahami apa yang menjadi tujuan dari praktikum, dan sebaiknya asisten lebih mengontrol lagi praktikannya.



Komentar
Posting Komentar