Laporan Manajemen Kualitas Air

 

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

          Air meupakan salah satu komponen lingkungan yang sangat penting bagi kehidupan. Air merupakan kebutuhan utama bagi proses kehidupan di bumi, karena makhluk hidup di muka bumi ini tak dapat terlepas dari kebutuhan akan air. Pentingnya peranan air tersebut, sehingga kualitas air sangat penting untuk diperhatikan. Aktivitas manusia merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi kalitas air karena dampak dari aktivitas manusia yang tidak memperhatikan nilai konservasi lingkungan menyebabkan fenomena pencemaran air (Widya, 2017).

          Kualitas air secara umum menunjukkan mutu atau kondisi air yang dikaitkan dengan suatu kegiatan atau keperluan tertentu. Dengan demikian kuaitas air akan berbeda dari suatu kegiatan ke kegiatan yang lain, sebagai contoh kualitas air untuk keperluan irigasi berbeda dengan kualitas air untuk keperluan air minum. Kuantitas atau jumlah air umumnya dipengaruhi oleh lingkungan fisik daerah seperti hujan, topografi, dan jenis batuan sedangkan kualitas air sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial seperti kepadatan penduduk dan kepadatan sosial (Agustiningsih et all., 2012).

            Kualitas air dapat ditentukan dengan uji laboratorium. Pengujian kualitas air dilakukan dengan pengujian parameter fisik, kimia dan biologi. Parameter kualitas air terdiri dari parameter fisik yaitu suhu, kekeruhan dan sebagainya, sedangkan parameter kimia terdiri dari COD, BOD, pH, DO dan sebagainya, dan parameter biologis seperti keberadaan bakteri dan sebagainya (Samsundar & Wirawan, 2013).

Perairan bungkutoko merupakan perairan yang berada di Kecematan Abeli Kota Kendari. Perairan ini merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi sumber daya hayati. Daerah tersebut mempunyai sumber daya pesisir yang meliputi ekosistem mangrove, lamun, dan karang yang memberikan manfaat bagi kehidupan ekologi bagi organisme laut untuk berkembang biak dengan baik (La untu & Mustafa, 2017).

          Praktikum lapang manajemen kualitas air belum pernah di lakukan di lokasi ini sehingga, perlu di lakukan kajian akademik untuk mengetahui kualitas air di perairan Bungkutoko.

B. Tujuan Praktikum

          Adapun tujuan praktek lapang yaitu :

1.    Praktikan dapat mengetahui proses dan cara pengamatan di lapangan.

2.    Untuk mengetahui kualitas air di perairan Bungkutoko (Kali Biru).

3.    Untuk mengetahi kualitas air di perairan Bungkutoko apakah baik atau tidak untuk budidaya.

 

 

C.Manfaat Praktikum

            Adapun manfaat pada praktek lapang manajemen kualitas air :

1.    Praktikan dapat mengetahui proses dan cara pengamatan di lapangan.

2.    Untuk mengetahui kualitas air di perairan Bungkutoko (Kali Biru).

3.    Untuk mengetahi kualitas air di perairan Bungkutoko apakah baik atau tidak untuk budidaya.

 


 

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Paremeter Kimia Perairan

1. Nitrat

          Nitrat yaitu bentuk utama nitrogen diperairan alami yang merupakan salah satu nutrien utama bagi pertumbuhan algae. Nitrat bersifat stabil dan mudah larut dalma air. Senyawa nitrat dihasilkan dari proses oksidasi sempurna senyawa nitrogen di perairan. nitrat berasal dari limbah pertanian, pupuk, kotoran hewan, manusia, dan sebagainya. Nitrat dibutuhkan sebagai sumber energi atau nutrien yang digunakan oleh organisme. Sumber utama nitrat dapat berasal dari proses penguraian, pelapukan., dekomposisi tumbuhan, sisa-sisa sisasisa organisme mati, buangan limbah daratan yang akan terurai oleh bakteri menjadi zat hara. Zat hara tersebut akan dimanfaatkan oleh tanaman laut untuk pertumbuhan dan perkembangannya (Sari et all., 2015).

          Kadar nitrat yang cukup untuk pertumbuhan organisme berkisar antara 0,3 sampai 0,9 mg/l. Apabila melebihi 3,5 mg/l akan membahayakan perairan.  hal yang dapat memicu terjadinya eutrofikasi adalah perairan dengan kadar nitrat lebih dari 0,2 mg/l sehingga mengakibatkan pertumbuhan fitoplankton dengan cepat (blooming). Kenaikan nitrat disebabkan adanya oksigen yang tinggi. Hal ini dikarenakan memicu banyaknya proses nitrifikasi. Menurut Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur nomor 2 tahun 2011 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air, nilai baku mutu untuk keperluan perikanan adalah 20 mg/l. kadar nitrat yang lebih dari 5 mg/l menggambarkan telah terjadinya pencemaran. Konsentrasi rata-rata nitrit tertinggi            (firmansyah et all., 2016).

2. Fosfat

            Fosfat adalah bentuk fosfor yang dapat di manfaatkan oleh tumbuhan dan merupakan unsur esensial bagi tumbuhan tingkat tinggi dan alga sehingga dapat mempengaruhi tingkat produktivitas perairan. Sumber fosfor di perairan dan sedimen adalah deposit fosfat, dan penggundulan hutan (Ruttenberg, 2004). Fosfat di perairan secara alamiah berasal dari pelapukan batuan mineral dan dekomposisi bahan organik. Sedimen merupakan tempat penyimpanan utama fosfor dalam siklus yang terjadi di lautan. Umumnya dalam bentuk partikulat yang berikatan dengan oksida besi dan senyawa hidroksida. Senyawa fosfor yang terikat di sedimen dapat mengalami dekomposisi dengan bantuan bakteri maupun melalui proses abiotik menghasilkan senyawa fosfat yng terlarut yang dapat mengalami difusi kembali ke dalam kolom air. Ketika fosfat di badan air berada dalam jumlah berlebihan, fosfat akan kembali terdeposisi ke dalam pori sedimen melalui proses sidementasi, adsorbsi, dan presipetasi. Dengan demikian, sedimen disuatu perairan memiliki peranan penting terhadap proses eutrofikasi karena bertindak sebagai sumber dan penampung fosfat (paytan, 2007).

          Secara umum kandungan fosfat di lapisan dasar adalah lebih tinggi dibandingkan lapisan permukaan, dimana rata-rata kandungan fosfat di permukaan adalah sebesar 0,11 g-at P/L, sedangkan rata-rata di lapisan dasar sebesar 0,14 g-at P/L. Seperti halnya pada nitrat, tingginya kandungan fosfatdi dasar perairan karena dasar perairan umumnya kaya akan unsur hara, baik yang berasal dari dekomposisi sedimen maupun senyawa-senyawa organik yang berasal dari jasad flora maupun fauna yang mati             (Ulqodri et all., 2010).

3. Salinitas                                    

          Salinitas adalah salah satu paremeter lingkungan yang mempengaruhi proses biologi dan secara langsung akan mempengaruhi kehidupan organisme antara lain yaitu mempengaruhi laju pertumbuhan, jumlah makanan yang dikomsumsi, nilai konversi makanan, dan daya kelangsungan hidup (Patty, 2013).

          Salinitas air dapat dilakukan pengukuran dengan menggunakan alat yang disebut dengan Refraktometer atau salinometer (alat pengukur salinitas air). Satuan untuk pengukuran salinitas air adalah satuan gram per kilogram (PPT) atau promil (o/oo). Nilai salinitas air untuk perairan tawar biasanya berkisar antara 0-5 ppt, salinitas perairan payau biasanya berkisar antara 6-29 ppt, dan salnitas perairan laut berkisar antara 30-35 ppt (Arief, 1984).

B. Paremeter Fisika Perairan

1. Suhu

          suhu adalah ukuran panas atau dingin yang dinyatakan dengan skala sembarang. Di mana skala tersebut menunjukkan bahwa suhu panas yang memiliki energi tinggi akan mengalir ke suhu yang lebih rendah atau dingin. Maka dari itu, suhu dapat dinyatakan pula menjadi ukuran kualitatif sebuah benda. Suhu ini bisa diukur karena adanya energi kinetik dalam suatu benda. Jadi, semakin besar energi kinetik suatu benda, suhunya akan semakin tinggi (Hasibuan et all., 2018).

          Suhu optimum habitat hidup organisme berkisar 24-28oC dengan kandungan oksigen terlarut di perairan 3-5 ppm dan pH 7-8. Kepekaannya yang rendah terhadap senyawa-senyawa beracun dalam air merupakan nilai lebih dari biotakarena kebanyakan organisme akan mati pada kadar CO2terlarut sebesar 15  ppm (Saparianto, 2009).

          Suhu air juga akan mempengaruhi kekentalan (viskositas) air. perubahan suhu air yang drastis dapat mematikan biota air karena terjadi perubahan daya angkut darah. Suhu berkaitan erat dengan konsentrasi oksigen terlarut dalam air dan konsumsi oksigen. Pergantian atau pencampuran air merupakan cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi pengaruh suhu tinggi. Pergantian air yang diupayakan untuk pengenceran metabolit sekaligus dapat mempengaruhi pengaruh suhu tinggi (kordi, 2010).

2. Arus

            Arus merupakan gerakan horizontal atau vertikal dari suatu massa air sehingga massa airtersebut mencapai kestabilan. Gerakan tersebut merupakan resultan dari beberapa gaya yangbekerja dan beberapa faktor yang mempengaruhinya. Arus pun juga dapat dibedakanberdasarkan gaya pembangkitnya, salah satunya arus Ekman. Arus Ekman merupakan arusyang disebabkan oleh gesekan angin. Jika bumi tidak berotasi, gesekan dari angin terhadappermukaan laut akan menggerakan lapisan permukaan air ke arah yang sama dengan arahangin, begitu pula dengan kolom air di bawahnya akan mengikuti ke arah yang sama dengankecepatan yang semakin kecil pada kolom yang semakin dalam. Akan tetapi, karena bumiberotasi, air permukaan yang di gerakan oleh angin akan mengalami pergeseran ke kananpada Bumi Bagian Utara dan ke kiri pada Bumi Bagian Selatan. Pergeseran arah arus inidikenal dengan efek Coriolis kemudian yang lebih dikenal dengan teori Ekman (Laopatty, 2013).

 

         

         


 

III. METODE PRAKTEK

A.Tempat dan Waktu

          Praktek lapang manajemen kualitas air dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 11 Juni 2022 pukul 06:30 WITA – selesai bertempat di Kali Biru, Kelurahan Bungkutoko, Kecamatan Abeli, Kota Kendari, Selawesi Tenggara.

Praktek pengamatan laboratorium dilaksanakan pada hari Rabu 15 Juni 2022 pukul 08.00 – selesai.Bertempat di Laboratorium Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan, Universitas Halu oleo, Kendari.

B. Alat dan Bahan

Alat dan Bahan yang digunakan dalam praktikum manajemen kualitas air dapat di lihat pada tabel 1 :

Tabel 1. Alat dan bahan untuk praktikum manajemen kualitas air.

No.

Alat dan Bahan

Satuan

Kegunaan

1.

Alat

 

 

 

- Botol UC

Unit

Wadah sampel air

 

- Botol air mineral

Unit

Wadah sampel air

 

- Layangan arus

Unit

Untuk mengukur arus

 

- Alat Tulis

-

Untuk mencatat hasil

 

- Corong kecil

Unit

Membantu proses penyaringan sampel air

 

- Kamera

Unit

Dokumentasi

 

- Tabung reaksi

Ml

Wadah mereaksikan sampel

 

- Solasi bening

Unit

Alat perekat

 

- Solasi hitam

Unit

Alat untuk menutupi botol

 

- Thermometer

°C

Alat mengukur suhu perairan

 

- Pipet volume 1 ml,

  5ml dan 10 ml

Ml

Alat penghubung larutan

 

- Gelas ukur

Ml

Wadah untuk mereaksikan sampel

 

- Kertas label

-

Alat memberi keterangan pada sampel

 

- Indikator pH

Unit

Mengukur nilai pH

 

- Gelas beker

Ml

Mereaksikan sampel

 

- Refraktometer

Ppt

Mengukur salinitas perairan

 

- Rubber bulb

Unit

Mengambil larutan dengan cara disambungkan dengan pipet volum

 

- Vortex mixer

Unit

Mencampur larutan yang ada pada tabung reaksi

 

- Hot plate

Unit

Menghomogenkan larutan

 

- Rak tabung reaksi

Unit

Wadah untuk meletakkan tabung reaksi

 

- Kertas saring

Unit

Menyaring sampel air

 

- Spektrofotometer

Unit

Pembaca penjang gelombang

 

2.

Bahan

 

 

- Larutan NaCl 30%

Ml

Reagen dalam pengujia nnitrat

 

- Larutan Brucine

Ml

Reagen dalam pengujian nitrat

 

- Larutan H2SO4

  70%

Ml

Reagen dalam pengujian nitrat

 

- Amonium molibdat

Ml

Reagen dalam pengujian fosfat

 

- Aquades

Ml

Pengencer larutan sampel

 

C. Prosedur Kerja

1.   Nitrat

a.    Pengamatan di lapangan

·         Menentukan lokasi pengambilan sampel.

·         Mengambil sampel air pada badan air usahakan tidak ada gelembung.

·         Agar sampel tidak rusak ditetesi H2SO4 2-3 tetes.

·         Melihat kadar pH menggunakan kertas lakmus

·         Tingkatan pH yang dibutuhkan yaitu 2 selanjutnya dianalisis di laboratorium.

b.    Pengamatan di laboratorium

·         Mengambil sampel nitrat sebanyak 5 ml menggunakan pipet volume dan ruberbulb, kemudian masukkan ke dalam tabung reaksi.

·         Tambahkan larutan NaCl 30% sebanyak 1 ml ke dalam sampel nitrat yang berada di tabung reaksi dengan menggunakan pipet volume 1 ml dan rubber bulb.

·         Tambahkan larutan H2SO4 sebanyak 5 ml pada sampel menggunakan pipet volume 5 ml dan rubber bulb dan di homogenkan.

·         Setelah dihomogenkan ditambahkan larutan Brucine sebanyak 0,25 ml ke dalam sampel nitrat yang telah di homogenkan.

·         Selanjutnya larutan dihomogenkan kembali mennggunakan vortex mixer dan dipanaskan menggunakan hot plate sehingga berubah warna menjadi warna ungu muda.

2.   Fosfat

a.    Pengamatan di lapangan

·         Menentukan lokasi pengambilan sampel.

·         Mengambil sampel air pada badan air usahakan tidak ada gelembung.

·         Kemudian disaring menggunakan kertas saring berukuran 42 mikro.

b.    Pengamatan di laboratorium

·         Mengambil sampel fosfat sebanyak 10 ml dengan menggunakan pipet volume 10 ml dan rubber bulb, dan disimpan di dalam gelas ukur.

·         Tambahkan larutan Amonium molibdat sebanyak 5 ml ke dalam sampel fosfat di gelas ukur tersebut.

·         Kemudian dihimpitkan menggunakan aquades hingga menjadi 25 ml

·         Kemudian dibaca gelombang warnanya menggunakan spektrofotometer.

3.   Suhu

a.    Menentukaan lokasi pengamatan.

b.    Mengukur suhu menggunakan thermometer.

c.    Mencatat hasil pengukuran pada buku.

4.   Salinitas

a.    Menentukan lokasi pengambilan sampel

b.    Mengambil sampel air untuk pengukuran salinitas

c.    Mengukur salinitas menggunakan Hand refraktometer.

d.    Mencatat hasil pengukuran pada buku.

5.   Kecepatan Arus

a.    Menentukan lokasi pengamatan.

b.    Mengukur kecepatan arus menggunakan layangan arus dan dilihat waktunya menggunakan stopwatch.

c.    Mencatat hasil pengukuran pada buku.

D. Analisis Data

1. Nitrat

      Untuk mengukur nitrat menggunakan rumus (Kurniawan, 2013), sebagai berikut :

N =

2. Fosfat

          Untuk mengukur fosfat menggunakan rumus (Kurniawan, 2013), sebagai berikut :

P = 

 

 

 

3.   Kecerahan

     Untuk mengukur kecerahan menggunakan rumus (Kurniawan, 2013), sebagai berikut :

Kecerahan = (D1 + D2/2Z) x 100%   

Ket :

D1 = jarak antara permukaan air sampai hilangnya warna putih pada secchi disk (m).

D2   = jarak antara dasar perairan sampai munculnya warna hitam pada secchi disk (m).

4.   Arus

     Untuk mengukur kecerahan menggunakan rumus (Kurniawan, 2013), sebagai berikut :

 

 

 

 

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Gambaran Umum Lokasi

 

Gambar 1. Lokasi Pengamatan

(Sumber: Dok. Pribadi, 2022)

 

Provinsi Sulawesi Tenggara terdiri dari 10 Kabupaten dan 2 Kota dimana Kota Kendari sebagai salah satu Kota yang ada pada Provinsi Sulawesi Tenggara.  Kota Kendari secara geografis terletak di jazirah Tenggara Pulau Sulawesi dengan wilayah darat sebagian besar berada di daratan Sulawesi mengelilingi Teluk Kendari dan terdapat satu pulau yaitu pulau Bungkutoko, secara geofrafis terletak di bagian selatan garis khatulistiwa, berada di antara 3054’30” - 403’11” Lintang Selatan dan 122023’ - 122039’ Bujur Timur. Luas Wilayah daratan Kota Kendari adalah 296.000 Km².

2. Hasil Praktek Lapang

a. Pengamatan Parameter Fisika

          Hasil pengamatan parameter fisika dapat dilihat pada tabel 2 berikut:

Tabel 2. Hasil pengamatan Parameter Fisika perairan

NO

Parameter

Hasil

Satuan

Keterangan

1.

Kecerahan

100

%

In situ

2.

Kecepatan Arus

54

Sekon

In situ

3.

Suhu

29

oC

In Situ

 

b. Pengamatan Kimia Perairan

          Hasil pengamatan kimia dapat dilihat pada tabel 3 berikut:

Tabel 3. Hasil pengamatan Paremeter Kimia Perairan

NO

Parameter

Hasil

Satuan

Keterangan

1.

Salinitas

35

ppt

In situ

2.

Nitrat

0,440

ppm

Eks situ

3.

Fosfat

0,044

ppm

Eks Situ

4.

pH

7

-

In Situ

 

B. Pembahasan

            Telah dipahami pula bahwa berbagai parameter yang masuk dalam studi manajemen kualitas air seperti paremeter kimia, fisika, dan biologi akan berubah dan saling berinteraksi satu sama lain, peningkatan oksigen terlarut dalam paremeter kimia akan memberikan penurunan yang signifikan terhadap ketersediaan karbondioksida di perairan seiring pertambahan oksigen terlarut. Tidak hanya itu, interaksi intra paremeter fisika dan biologi seperti peningkatan intensitas cahaya disiang hari akan mempengaruhi jumlah padatan fitoplankton sebagai produsen di perairan, hal ini tentu akan berkesinambungan dengan peningkatan intesitas laju fotosintesis yang diakhir prosesnya menyediakan oksigen untuk proses respirasi         (Yuliastuti, 2011).

A. Paremeter Fisika Perairan

1. Kecepatan Arus

Hasil pengamatan kecepatan arus yang di dapatkan dalam perairan Kali Biru sebesar 0,054 m/s. Faktor yang mempengaruhi tingginya kecepatan arus antara lain memiliki suhu yang rendah yang memungkinkan angin bergerak ke suhu yang lebih tinggi karena suhu yang panas memiliki tekanan udara yang rendah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wijayanto (2013), yang menyatakan bahwa, gaya utama dalam pergerakan arus adalah gaya gradient, tekanan, gaya coriolis, gaya gravitasi, gaya gesekan, dan gaya sentrifugal serta ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi kecepatan arus yaitu suhu, cuaca, dan udara.

2. Suhu

          Hasil pengamatan yang dilakukan pada perairan Kali Biru suhu yang didapatkan adalah 29 oC. Perairan Kali Biru bisa digunakan untuk membudidaya organisme laut (ikan), karena suhunya bisa dikategorikan stabil. Hal ini sesuai dengan pernyataan Azwar (2001), yang menyatakan bahwa suhu yang dapat di tolerir oleh organisme laut pada suatu perairan berkisar (25oC – 31oC), sedangkan untuk plankton berkisar (20 oC – 30 oC). dan sejalan dengan pernyataan Hamuna et al., (2015), yang menyatakan bahwa pada umumnya suhu permukaan perairan adalah berkisar antara 28 – 31°C.

3. Kecerahan

          Hasil pengamatan kecerahan yang didapatkan pada perairan kali biru salinitas yang di dapatkan 100 %. Kecerahan di perairan Kali Biru di pengaruhi oleh cuaca. Secara umum tingkat kecerahan perairan Kali Biru masih tergolong baik, dengan tingkat kecerahan air laut berkisar 100 %. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hamuna et all., (2018), yang mengatakan bahwa kemampuan cahaya matahari untuk menembus sampai ke dasar perairan dipengaruhi oleh kekeruhan (turbidity) air. Oleh karena itu, tingkat kecerahan dan kekeruhan air laut sangat berpengaruh pada pertumbuhan biota laut. Tingkat kecerahan air laut sangat menentukan tingkat fotosintesis biota yang ada di perairan laut.

B. Paremeter Kimia Perairan

1. Salinitas

Hasil pengamatan yang didapatkan pada perairan kali biru salinitas yang di dapatkan 35 ppt. salinitas yang didapatkan sesaui dengan kriteria salinitas perairan laut. Hal ini sesaui dengan pernyataan Effendi (2003), yang mengatakan dimana pada perairan pesisir nilai salinitas sangat dipengaruhi masukkan air tawar dari sungai dan nilai salinitas perairan tawar biasanya kurang dari 0,5 ppt, perairan payau antara 0,5 – 30 ppt, dan perairan laut 30 – 40 ppt. Dan sejalan dengan Dahuri et al., (2015), yang menyatakan bahwa salinitas tersebut tidak berbeda jauh dengan nilai salinitas perairan Indonesia, dimana secara umum permukaan perairan Indonesia ratarata berkisar antara 32 – 35 ‰.

2. pH

          Hasil pengamatan yang didapatkan pada perairan Kali biru pH yang di kategorikan sebagai pH normal yaitu 7. pH 7 sangat baik untuk kehidupan suatu organisme. Dan sangat baik jika pH 7 didalam perairan budidaya membuat organisme mempunyai pertumbuhan yang sangat baik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Maniagasi et all., (2013), yang menyatakan bahwa semakin tinggi pH suatu perairan, maka semakin tinggi pula nilai alkalinitas dan semakin rendah kadar karbondioksida bebas perairan tersebut dan kebanyakan organisme laut sangat menyukai nilai pH yang berkisar 7 – 8,5.

3. Nitrat

    Hasil pengamatan nitrat yang diperoleh yaitu 0,440 mg/L, nitrat yang terlarut diakibatkan suplai dari daratan melalui sungai. Hal ini sesuai dengan Odum (1998), yang menyatakan bahwa nitrat yang terlarut di perairan laut merupakan suplai dari daratan yang melalui aliran sungai. Kadar nitrat tersebut sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan Kep.51/MENKLH/2004 yaitu minimal 0,008 mg/L. dan konsentrasi nitrat di jelaskan oleh Monoarfa (1992) membagi konsentrasi nitrat dalam tanah menjadi 3 bagian yaitu <3 ppm=rendah, 3-10 ppm= sedang dan >10 ppm = tinggi, berdasarkan hal ini maka kandungan nitrat pada penelitian ini berada pada konsentrasi sedang.

4. Fosfat

Hasil pengamatan fosfat yang diperoleh yaitu 0,044 mg/L. Kemungkinan fosfat berasal dari aliran sungai. Nilai tersebut menandakan bahwa kandungan fosfat di perairan Kali Biru telah melebihi standar baku mutu air laut untuk biota laut sebagaimana dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 tahun 2004, yaitu 0,015 ml/g. Hal ini sesuai dengan odum (1998), yang mengatakan bahwa sumber utama fosfat di perairan laut berasal dari aliran sungai, penguraian sisa organisme, dan pengadukan dasar laut. Dan sejalan dengan pernyataan Anhwange (2012), yang menyatakan  bahwa tingkat maksimum fosfat yang disarankan untuk sungai dan perairan yang telah dilaporkan adalah 0,1 mg/l. Perairan yang nilai fosfatnya lebih dari 0.1 mg/l sebagai perairan eutrof, dimana perairan ini sering terjadi blooming fitoplankton.


V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

          Perairan Bungkutoko memiliki kualitas air yang cocok untuk dilakukannya kegiatan budidaya. Adapun kesimpulan dari praktikum ini yaitu sebagai berikut :

1.    Kecepatan arus yang ada di perairan kali biru 0,054 m/s, kecepatan arus yang dalam keadaan normal.

2.    Suhu yang ada di perairan kali biru berkisar 29 oC sangat cocok untuk membudidaya oragnisme laut.

3.    Salinitas yang ada di perairan kali biru berkisar 35 ppt. masuk kedalam salinitas yang standar yaitu 30 – 40 ppt.

4.    pH yang ada di perairan kali biru berkisar 7, organisme sangat menyukai pH perairan yang berkisar 7 – 8,5.

5.    Nitrat yang ada pada perairan kali biru berkisar 0,440 mg/L. Kadar nitrat yang begitu rendah sangat cocok di jadikan tempat budidaya.

6.    Fosfat yang ada di perairan kali biru berkisar 0,044 mg/L. kadar fosfat yang begitu rendah sangat cocok di jadikan tempat membudidayakan organime laut.

7.    Kecerahan yang didapatkan pada perairan kali biru salinitas yang di dapatkan berkisar 100 % dan masuk dalam keadaan yang baik.

B. Saran

          Sebaiknya dalam praktikum semua anggota kelompok aktif dalam melakukan praktikum agar bisa lebih memahami apa yang menjadi tujuan dari praktikum, dan sebaiknya asisten lebih mengontrol lagi praktikannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Fisiologi Hewan Air : Moulting