Laporan Avertebrata Air : Filum Porifera

 ABSTRAK

Avertebrata air adalah ilmu yang mempelajari semua biota-biota yang hidup dalam air, terutama hewan air yang tidak memiliki tulang belakang sebagai penopang tubuhnya termasuk juga tumbuhan air dan karang. Spons merupakan salah satu biota laut yang sangat prospektif sebagai sumber senyawa bahan-bahan alami antara lain alkaloid, terpenoid, steroid, asetogenin, halida siklik, peptida, dan senyawa nitrogen. Tubuh porifera berbentuk seperti vas bunga yang menempel pada dasar perairan, tubuhnya lunak dan permukaannya berpori (ostium). Anatomi porifera terdapat tiga  saluran yaitu ascon, sycon, dan leukon. Tujuan dari praktikum ini untuk mengetahui filum Porifera secara morfologi dan anatomi serta dapat mengamati dan mengklasifikasi dari filum porifera.

Kata Kunci : Anatomi, Avertebrata Air, Filum Porifera, Morfologi

 

 

I.  PENDAHULUAN

Latar Belakang

Avertebrata Air adalah  ilmu yang mempelajari  semua biota-biota yang hidup dalam air, terutama hewan air yang tidak memiliki tulang belakang sebagai penopang tubuhnya termasuk juga tumbuhan air dan karang. Kelompok hewan avertebrata mempunyai ciri-ciri tidak bertulang belakang, susunan syaraf terletak di bagian ventral (perut) di bawah saluran pencernaan, umumnya memiliki rangka luar (eksoskeleton) dan otak tidak dilindungi oleh tengkorak (Yanuhar, 2018).

Spons merupakan salah satu biota laut yang sangat prospektif sebagai sumber senyawa bahan-bahan alami antara lain alkaloid, terpenoid, steroid, asetogenin, halida siklik, peptida, dan senyawa nitrogen. Senyawa-senyawa ini memiliki aktivitas farmakologis seperti antitumor, antiinflamasi, antivirus, antibakteri, dan antimalaria (Alexander et al, 2014).

Tubuh Porifera berbentuk seperti vas bunga yang menempel pada dasar perairan. Tubuhnya lunak dan permukaannya berpori (ostium). Porifera memiliki rongga tubuh (Spongocoel) dan lubang keluar (oskulum). Air akan mengalir dari ostium masuk ke spongocoel dan akhirnya akan mengalir ke luar melalui oskulum. Porifera memiliki dua lapisan jaringan tubuh (diploblastik). Lapisan luar tersusun oleh sel-sel epidermis yang disebut pinakosit, sedangkan lapisan dalamnya tersusun oleh sel-sel endodermis berbentuk corong (Setiowati, 2014).

Tubuh Porifera dikelompokkan menjadi tiga tipe, yaitu tipe ascon, tipe sycon dan tipe rhagon atau leukon. Walaupun strukturnya berbeda, fungsinya tetap sama, yaitu sebagai saluran air. Ascon merupakan saluran air dengan lubang ostium yang dihubungkan langsung oleh saluran ke spongocoel. Sycon merupakan saluran air yang bercabang-cabang ke rongga-rongga yang berhubungan langsung dengan spongocoel. Rhagon merupakan tipe saluran air yang kompleks. Air mengalir melalui ostium kemudian masuk melalui saluran menuju rongga-rongga yang dibatasi oleh koanosit, selanjutnya, air mengalir melalui saluran-saluran menuju ke spongocoel dan berakhir dioskulum (Kurmana, 2017).

Berdasarkan hal tersebut diatas maka sangat penting untuk dilakukan praktikum avertebrata air mengenai filum porifera dengan tujuan untuk mengamati dan mengenal lebih jauh mengenai struktur tubuh morfologi dan anatomi filum porifera.

Tujuan dan Manfaat

            Tujuan dari praktikum ini untuk mengetahui filum Porifera secara morfologi dan anatomi serta dapat mengamati dan mengklasifikasi dari filum porifera.

            Manfaat dari praktikum ini yaitu dapat memahami ciri-ciri fisik meliputi morfologi dari filum porifera, dapat mengidentifikasi dan memahami bagian-bagian dari anatomi filum porifera, serta dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan mengenai jenis-jenis organisme dari filum porifera.

II.  METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat

Praktikum ini di lakukan pada hari Jum’at 03 Desember 2021, pukul 06.30 sampai 09.40 WITA yang bertempat di laboratorium Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Halu Oleo.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu baki (dissecting-pan), pisau bedah (scapel), pinset, kaca pembesar/lup, jarum pentul, alat tulis, kertas HVS, lap kasar, lab halus, wadah/toples, buku identitas, formalin dan alkohol 70%. Bahan spongia (S. officinalis).

Metode Pengamatan

Adapun metode pengamatan pada praktikum ini adalah melakukan pengamatan pada organisme yang akan di praktikumkan, mengidentifikasi bagian-bagian organisme tersebut, melakukan pengamatan secara langsung (morfologi) dan pengamatan membedah (anatomi), dan menggambar bentuk organisme secara morfologi dan anatomi dan dilengkapi dengan bagian-bagian organisme yang telah diidentifikasi dan memberi keterangan pada setiap bagian-bagiannya serta membuat laporan sementara.


III.  HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

           Hasil pengamatan morfologi dan anatomi pada filum porifera dapat di lihat pada gambar 1 dan 2.

 


                                                               

 

 

 

   Gambar 1. Morfologi S. officinalis                        Gambar 2. Anatomi S. officinalis

      (Sumber: Dok. Pribadi,2021)                                (Sumber: Dok. Pribadi, 2021)

 

    Ket : 1. Osculum

             2. Choanocyte      

           3. Spongocoel

           4. Ostium

       Ket : 1. Osculum

                2. Spongocoel

                3. Choanocytes

                4. Spiculer

                5. Epidermis

 

 

Pembahasan

            Hasil praktikum ini dilakukan pengamatan morfologi dan anatomi.  Morfologi filum ini terdapat  tempat keluar air (oskulum) dan tempat masuknya air atau pori-pori (ostium). Hal ini sesuai dengan Setiowati (2014), yang menyatakan bahwa porifera memiliki lubang keluar air (oskulum) dan lubang masuknya air (ostium). Porifera membentuk saluran air yang menuju ke rongga tubuh (Spongocoel). Hal ini sesuai dengan pernyataan Firmansyah (2015) bahwa pori-pori yang terdapat pada porifera membentuk saluran air yang bermuara di rongga tubuh (Spongocoel). Setelah itu untuk pengamatan anatomi, spons dibelah dan terlihat rongga besar dalam yang disebut Spongocoel, rongga ini bukan merupakan rongga tubuh sebenarnya, seperti yang dinyatakan oleh Kurmana (2017), bahwa porifera termasuk hewan golongan Aceolomates yakni belum memiliki rongga tubuh yang sebenarnya, kemudian diamati adanya pori-pori (ostium) yang terlihat jelas dari dalam tubuh, setiap ostium memiliki saluran yang menghubungkan ke spongosol.

            Spons sering menetap di dasar perairan berpasir maupun berlumpur pada bagian laut bagian dalam maupun dangkal tetapi spons juga ada yang hidup di perairan tawar. Biota ini hidup secara sesil (melekat pada substrat). Hal ini sesuai dengan pernyataan Rizka (2013), bahwa spons hidup menetap pada suatu habitat pasir atau lumpur di perairan laut maupun perairan tawar.

           Spons secara umum pada daerah kutub ke daerah tropis. Kebanyakan berada pada air tenang, air jernih, jika sedimen teraduk oleh gelombang atau arus, berakibat terblokirnya pori-pori spons, akibatnya, spons tersebut sulit untuk mendapatkan makanan dan bernapas. Hal ini sesuai dengan pernyataan Romimaharto & Juwana (2011), bahwa spons hidup di perairan yang bersikulasi baik karena spons sering ditemukan di perairan yang jernih bukan yang keruh.

IV.  PENUTUP

Simpulan

 Porifera atau spons ialah hewan berpori dari filum untuk hewan multiseluler yang paling sederhana, serta filum porifera juga mempunyai tempat keluarnya air (oskulum) dan tempat masuknya air atau pori-pori (ostium) serta porifera mempunyai rongga tubuh (spongocoel), saluran porifera ada tiga jenis yaitu ascon, sycon, dan leukon.

Saran

Saran saya untuk praktikum ini yaitu agar diadakan buat dana praktikum buat teman-teman yang pergi mencari bahan, dan para asisten lebih kreatif lagi dalam memberikan ujian praktikum nantinya.

DAFTAR PUSTAKA

Alexander, B. E., Liebrand, K., Osinga, R., Gees, H. G. V., Admiraal, W., Cleutjens J. P. M., Schutte, B., Verheyen, F., Ribes, M., Loon, E. V., Goeij, J. M. 2014. Cell Turnover and Detritus Production in Marine Sponges from Tropical and Temperate Benthic Ecosystems. PLOS ONE International Journal. Vol. 9(10): 1 – 11.

Firmansyah, R. 2015. Mudah dan Aktif Belajar Biologi. Grafindo Media Pratama. Jakarta. Hal : 209

Kurmana, O. 2017. Cerdas Belajar Biologi. Grafindo Media Pratama. Jakarta. Hal : 338

Rizka, P. 2013. Belajar Biologi. Media Pratama. Jakarta. Hal : 339

Romimohtarto, K. & Juwana S. 2011. Biologi Laut. Ilmu Pengetahuan tentang Biota Laut. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi LIPI. Jakarta. Hal : 115-128.

Rusyana, A. 2011. Zoologi Invertebrata (Teori dan Praktik). Alfabeta. Bandung.         Hal : 32

Setiowati. 2014. Biologi Interaktif. Azka Press. Jakarta. Hal : 212

Yanuhar, U. 2018. Avertebrata. Universitas Brawijaya Press. Malang. Hal : 237

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Fisiologi Hewan Air : Moulting