Laporan Fisiologi Hewan Air : Respon Terhadap Suhu

ABSTRAK

 

Fisiologi hewan air adalah ilmu yang mempelajari tentang proses - proses yang terjadi didalam tubuh organisme.  Dalam hal ini terkhusus pada hewan yang hidup di perairan. Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan nokturnal yang aktif pada malam hari Ikan nila mampu beradaptasi terhadap perubahan cahaya lingkungan karena memiliki jumlah sel kon yang banyak pada retinanya. Kelenjar hipofisa adalah organ yang ukurannya relative kecil  jika dibandingkan dengan ukuran tubuh yang terletak pada bagian dasar otak. Kelenjar hipofisa  memiliki bentuk sebesar biji kacang dengan warna yang terdapat pada kelenjar ini berwarna putih susu. Praktikum ini pada hari Jum’at tanggal 20 Mei 2022 pukul 08.30 – selesai bertempat di Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengambilan hipofisa bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk dan posisi hipofisa pada ikan serta proses pembedahan dan pemisahannya. Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut. Menyiapkan baki dan pisau bedah (menggunakan pisau tajam), mengambil ikan Nila yang akan dibedah, kemudian meletakkan obyek pengamatan diatas baki dengan posisi punggung menghadap keatas memotong tepat dibelakang tutup insang atau menempatkan pisau bedah pada batas antara kepala dan badan (body) dari ikan Nila hingga kepalanya terpisah dari tubuhnya, membedah tepat diatas meja (dissecting pen) hingga kerangka

Kata kunci : Fisiologi hewan air, Ikan nila (Oreochromis niloticus), Kelenajar Hipofisa.

 


I. PENDAHULUAN

Latar Belakang

            Ikan merupakan hewan berdarah dingin (poikilotermal) yang artinya suhu tubuh ikan mengikuti suhu lingkungan sekitarnya sehingga suhu tubuh mereka berubah-ubah sesuai dengan suhu lingkungannya (Sadarun. B, 2017).

            Suhu merupakan derajat panas atau dingin yang terdapat disuatu perairan. Suhu yang sesuai dengan suatu organisme dapat berkembang biak dengan baik, sedangkan suhu yang tinggi ataupun yang terlalu rendah tidak sesuai dengan kebutuhan organisme menyebabkan organisme tersebut harus menyesuaikan diri karena jika tidak mampu melakukan adaptasi maka organisme tersebut dapat mati. Suhu  adalah ukuran derajat panas atau dingin suatu benda, alat yang digunakan untuk mengukur suhu disebut termometer (Supu et all., 2016)

Perubahan suhu air yang lebih tinggi dari suhu ambang batas atau lebih rendah dari ambang batas bawah maka akan mengakibatkan kematian secara massal  pada organisme. Kematian  massal organisme perairan ini dapat menunjukkan bahwa suhu merupakan salah satu faktor abiotik yang sangat penting dalam menunjang kelangsungan hidup organisme perairan. Dimana Suhu dapat menjadi suatu faktor pembatas bagi beberapa fungsi biologis hewan air seperti migrasi, pemijahan, efisiensi makanan,  perkembangan dan lainya.

Tujuan dan Manfaat

            Tujuan dari prakikum ini yaitu untuk mengetahui pengaruh respon fisiologi organisme ikan terhada perubahan suhu lingkungan.

            Manfaat dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat mengetahui pengaruh respon fisiologi organisme ikan terhadap perubahan suhu lingkungan

 

II. METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat

            Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 21 Mei 2022 pukul 08.00 – 10.00 WITA. Bertempat di dalam Laboratorium Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Halu Oleo.

Alat dan Bahan

            Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah toples, kertas label, seser, dan termometer. Dan bahan yang digunakan adalah ikan tawar, es batu, dan air panas.

Metode Pengamatan

            Metode yang dilakukan pada pratikum  adalah pengamatan langsung. Pertama-tama menyiapkan media/toples, isikan air kedalam masing-masing toples yang berisi air masing-masing 1 ekor. Kemudian, memasukkan ikan air tawar kedalam. Setelah 10 menit, mengitung banyaknya gerakan membuka dan menutup operculum ikan dalam satu menit. Makukan hal ini hingga 4 menit kedepan. Masukkan hasil pengamatan dalam tabel pengamatan memasukkan 2 toples yang berisi ikan kedalam mangkuk, menuangkan air panas kedalam salah satu mangkuk (air panas jangan dmasukkan kedalam toples). Mengatur suhu pada air didalam toples hingga stabil pada suhu 350C;Pada mangkuk yang lain, masukkan es batu kedalamnya (es jangan dimasukkan kedalam toples). Mengatur suhu pada air didalam toples hingga stabil pada suhu 200C. Mencatat banyaknya gerakan membuka dan menutupnya operculum dalam satu menit pada masing-masing toples yang dimasukkan pada mangkuk yang berbeda. melakukan hingga 4 menit kedepan dengan mempertahankan suhu air pada toples, ganti ikan pada kedua toples dengan ikan yang baru. Mencatat banyaknya aktivitas menutup dan membukanya operculum ikan pada kedua suhu yang berbeda

 

 

 

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

            Adapun hasil yang di peroleh dari pengamatan respon organisme terhadap suhu dapat dilihat Tabel 1.

 

Tabel 1. Respon organisme terhadap suhu

 

Organisme

 

Perubahan Suhu (˚C)

 

20 (˚C)

35 (˚C)

Ikan Nila

(O. niloticus)

 

 

 

Pembahasan

            Berdasarkan hasil pengamatan dari respon organisme terhadap suhu, organisme ikan terhadap masing-masing suhu yang diberikan memiliki tingkah laku pergerakan yang berbeda-beda, dimana pada suhu 20°C bukaan operculum lambat. Sedangkan pada suhu 35°C  bukaan operculum cepat. Hal ini disebabkan karena ikan  masih menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sesuai dengan pernyataan ( Lisa et all., 2017) bahwa, ikan mampu beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan kisaran suhu yang beragam karena tingkah lakunya dapat dipengaruhi seiring terjadinya perubahan suhu yang diterima oleh ikan tersebut.

            Dan suhu yang diberikan memiliki tingkah laku pergerakan yang berbeda. Dimana bukaan operculum ikan yaitu semakin tinggi suhu yang diberikan maka semakin cepat bukaan operculumnya. Hal ini disebabkan karena ikan air laut melakukan penyesuaian diri terhadap suhu yang diberikan. Sesuai dengan pernyataan (Azhwar dkk., 2016) bahwa, ikan atau organisme yang hidup didalam air yang suhunya tinggi maka akan mengalami kenaikkan kecepatan respirasi ini dapat dilihat dari perubahan pergerakkan operculum ikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Fisiologi Hewan Air : Moulting