Laporan MKA
LAPORAN PRAKTIKUM
MANAJEMEN KUALITAS
I.PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pulau Bungkutoko merupakan pulau yang terletak pada bagian depan Teluk Kendari. Kondisi Perairan Pulau Bungkutoko telah mengalami banyak perubahan yang diakibatkan dengan adanya pembangunan jembatan serta kegiatan reklamasi. Sarbidi (2005), mengatakan bahwa pembangunan terus menerus di wilayah pesisir menimbulkan banyak permasalahan.
Wilayah pesisir merupakan wilayah yang penting ditinjau dari berbagai sudut pandang perencanaan dan pengelolaan. Transisi antara daratan dan lautan di wilayah pesisir telah membentuk ekosistem yang beragam dan sangat produktif serta memberikan nilai ekonomi yang luar biasa terhadap manusia.
Baku mutu air pada sumber air, disingkat baku mutu air, adalah : batas kadar yang diperbolehkan bagi zat atau bahan pencemar terdapat dalam air, namun air tetap berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Baku mutu air laut adalah batas atau kadar mahluk hidup, zat, energi atau komponen lain yang ada atau harus ada dan zat atau bahan pencemar yang ditenggang adanya dalam air laut (Sundra et al., 2016).
Kualitas air adalah kondisi kalitatif air yang diukur dan atau di uji berdasarkan parameter-parameter tertentu dan metode tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 1 keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 tahun 2003).
Berdasarkan ulasan diatas maka dilakukan praktikum lapang Manajemen Kualitas Air di perairan Kali biru kendari untuk mengetahui dan menganalisis kualitas air yang ditinjau dari parameter-parameter lingkungan perairan yaitu parameter fisika dan kimia.
B. Tujuan Praktek
Adapun tujuan dari praktikum Manajemen Kualitas Air adalah untuk mengetahui dan menganalisis kualitas air yang ada di perairan Kali Biru Keluraharan Bungkutoko.
C. Manfaat Praktek
Adapun manfaat dari praktikum Manajemen Kualitas Air adalah dapat mengetahui kualitas air yang ada di perairan Kali Biru Keluraharan Bungkutoko.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Kimia Air
1. Nitrat
Nitrat adalah bentuk nitrogen utama diperairan alami. Nitrat berasal dari ammonium yang masuk ke dalam badan sungai terutama melalui limbah domestik konsentrasinya di dalam sungai akan semakin berkurang bila semakin jauh dari titik pembuangan yang disebabkan adanya aktifitas mikroorganisme di dalam air contohnya bakteri nitrosumonas (Mustofa, 2016).
Nitrat merupakan salah satu parameter kimia untuk menunjukkan kualitas perairan tersebut. Nitrat merupakan zat hara yang senyawa nitrogennya tidak bersifat toksik terhadap organisme akuatik, nitrat juga dapat dijadikan salah satu indikator kesuburan dan kualitas suatu perairan yang ditandai dengan pertumbuhan fitoplankton yang merupakan sumber nutrisi dan makanan alami bagi ikan. Nitrat adalah sumber nitrogen bagi tumbuhan selanjutnya lalu dikonversi menjadi protein bagi tumbuhan tersebut. Protein nitrat nitrogen mudah larut dalam air dan umumnya bersifat stabil. Senyawa ini dihasilkan oleh proses oksidasi sempurna dari senyawa nitrogen di perairan tersebut (Kusumaningtyas, 2010).
2. Fosfat
Fospat dalam perairan adalah dalam bentuk bentuk orthofosfat (PO4). Kandungan orthofosfat dalam air merupakan karakteristik kesuburan perairan tersebut. Perairan yang mengandung orthofosfat antara 0,003-0,010 mg/L merupakan perairan yang oligotrofik, 0,01-0,03 adalah mesotrofik dan 0,03-0,1 mg/L adalah eutrofik. Sedangkan perairan yang mengandung nitrat dengan kisaran 0-1 mg/L termasuk perairan oligotropik, 1-5 mg/L adalah mesotrofik dan 5-50 mg/L adalah eutrofik. (Jollenweider, 1968 dalam Wetzel, 1975). Fosfat menyediakan nutrisi bagi proses pertumbuhan dan metabolisme dalam kehidupan fitoplankton (Paiki & Kalor, 2017).
Fosfat (PO4) merupakan salah satu jenis nutrien yang tidak bisa dihilangkan keberadaannya di atmosfer, tetapi secara umum dapat dihilangkan dari lingkungan perairan melalui proses kimia atau biologi oleh fitoplankton di dalam sedimen (Da Silva, 2013). Selanjutnya menurut Patricia, Astono, & Hendrawan (2018), keberadaan fosfat di lingkungan perairan bersumber dari limpasan pupuk pertanian, kotoran hewan atau manusia, sabun, pengolahan sayur, dan industri pulp dan kertas.
3. Salinitas
Salinitas adalah konsentrasi seluruh larutan garam yang diperoleh dalam air laut, dimana salinitas air berpengaruh terhadap tekanan osmotik air, semakin tinggi salinitas maka akan semakin besar pula tekanan osmotiknya (Gufran & Baso, 2007 in Widiadmoko, 2013).
Salinitas adalah kadar garam terlarut dalam air. Salinitas merupakan bagian dari sifat fisik dan kimia suatu perairan, selain suhu, pH, substrat dan lain-lain. Salinitas menggambarkan padatan total di dalam air. Salinitas perairan menggambarkan kandungan garam dalam suatu perairan. Garam yang dimaksud adalah berbagai ion yang terlarut dalam air termasuk garam dapur (NaCl). Pada umumnya salinitas disebabkan oleh 7 ion utama yaitu natrium (Na), klorida (Cl), kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K), sulfat (SO4) dan bikarbonat (HCO3) (Effendi, 2004).
4. pH
Derajat keasaman (pH) merupakan logaritma negatif dari konsentrasi ion-ion hidrogen yang terlepas dalam suatu cairan dan merupakan indikator baik buruknya suatu perairan. pH suatu perairan merupakan salah satu parameter kimia yang cukup penting dalam memantau kestabilan perairan (Simanjuntak, 2009).
pH merupakan faktor pembatas bagi organisme yang hidup di suatu perairan. Perairan dengan pH yang tinggi atau rendah akan memengaruhi ketahanan hidup organisme yang hidup didalamnya termasuk bulu babi (Odum, 1993).
B. Fisika Air
1. Suhu
Suhu perairan merupakan salah satu faktor yang amat penting bagi kehidupan organisme di perairan. Suhu merupakan salah satu faktor eksternal yang paling mudah untuk diteliti dan ditentukan. Aktivitas metabolisme serta penyebaran organisme air banyak dipengaruhi oleh suhu air (Nontji, 2005). Suhu perairan berperan mengendalikan kondisi ekosistem perairan. Peningkatan suhu menyebabkan peningkatan dekomposisi bahan organik oleh mikroba (Effendi, 2003).
Suhu di perairan dipengaruhi oleh musim, lintang (latitude), ketinggian dari permukaan laut (altitude), waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan awan, aliran air dan kedalaman air. Suhu sangat berperan mengendalikan kondisi ekosistem suatu perairan. Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan vikositas, reaksi kimia, evaporasi dan volatilisasi (Effendi, 2003), hal tersebut sangat mempengaruhi nilai salinitas yang terdapat pada daerah estuary.
2. Kecerahan
Kecerahan merupakan jarak yang dapat ditembus cahaya matahari ke dalam perairan. Semakin jauh jarak tembus cahaya matahari, semakin luas daerah yang memungkinkan terjadinya fotosintesa (Kautsari, 2015). Kecerahan menunjukkan kemampuan penetrasi cahaya kedalam perairan. Tingkat penetrasi cahaya sangat dipengaruhi oleh partikel yang tersuspensi dan terlarut dalam air sehingga mengurangi laju fotosintesis (Riter, 2018).
Kecerahan merupakan ekspresi sifat optik air yang disebabkan oleh adanya bahan padatan tersuspensi berupa partikel liat, lumpur dan partikel organik lainnya. Kecerahan juga mempengaruhi proses fotosintesis dalam suatu perairan (Hasim et al., 2015).
3. Arus
Kecepatan arus termasuk salah satu paremeter kualitas air yang berpengaruh terhadap kemampuan suatu perairan untuk mengasimilasi dan mengangkut bahan- bahan pencemaran (Irfannur et al., 2021). Menurut Odum (1996) dalam Helmi, 2013, kecepatan arus disungai tergantung kemiringan, kekasaran, kedalaman dan kelebaran dasar perairan.
Arus sangat berperan dalam sirkulasi air, selain pembawa bahan terlarut dan tersuspensi, arus juga mempengaruhi jumlah kelarutan oksigen dalam air (Affan, 2012). Selain itu kecepatan arus sungai berperan sangat penting pada transpor material erosi, polutan, bahan organik, nutrien, iktioplankton serta biota air lainnya dan makanan (Haris, 2018). Pada musim hujan sumber air melimpah sehingga debit dan kecepatan arus air sungai relatif tinggi (Djumanto, 2013).
III. METODE PRAKTEK
A. Waktu dan Lokasi Praktek
Praktek lapang manajemen kualitas air dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 11 Juni 2022 pukul 06:30 WITA - selesai bertempat di Kali Biru, Kelurahan Bungkutoko, Kecamatan Abeli, Kota Kendari, Selawesi Tenggara. Sampel perairan diambil dan dianalisis lebih lanjut di Laboratorium Pengujian Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Halu Oleo.
B. Alat dan Bahan
Alat dan Bahan yang digunakan dalam praktikum produktivitas perairan ini yaitu:
Tabel 1. Alat dan Bahan yang digunakan pada praktikum manajemen kualitas air
No. Alat dan Bahan Satuan Kegunaan
1. Alat
- Botol UC Unit Sebagai wadah sampel air
- Botol air mineral Unit Sebagai wadah sampel air
- Layangan arus Unit Untuk mengukur arus
- Alat Tulis Untuk mencatat hasil
- Corong kecil Unit membantu proses penyaringan sampel air
- Kamera Unit Untuk Dokumentasi
- Tabung reaksi Ml Sebagai wadah untuk mereaksikan sampel
- Solasi bening Unit Sebagai alat perekat
- Solasi hitam Unit Sebagai alat untuk menutupi botol
- Thermometer °C Sebagai alat mengukur suhu perairan
- Pipet volum 1 ml, 5 ml dan 10 ml Ml Sebagai alat penghubung larutan
- Gelas ukur Ml Sebagai wadah untuk mereaksikan sampel
- Kertas label Sebagai alat memberi keterangan pada sampel
- Indikator pH Unit Untuk mengukur nilai pH
- Gelas beker Ml Untuk mereaksikan sampel
- Refraktometer Ppt Untuk mengukur salinitas perairan
- Rubber bulb Unit Untuk mengambil larutan dengan cara disambungkan dengan pipet volum
-Vortex mixer Unit Untuk mencampur larutan yang ada pada tabung reaksi
-Hot plate Unit Untuk menghomogenkan larutan
-Rak tabung reaksi Unit Sebagai wadah untuk meletakkan tabung reaksi
-Kertas saring Unit Untuk menyaring sampel air
-Spektrofotometer Unit Sebagai pembaca penjang gelombang
2. Bahan
- Larutan NaCl 30% Ml Sebagai reagen dalam pengujian nitrat
- Larutan Brucine Ml Sebagai reagen dalam pengujian nitrat
-Larutan H2SO4 70% Ml Sebagai reagen dalam pengujian nitrat
-Amonium molibdat Ml Sebagai reagen dalam pengujian fosfat
- Aquades Ml Sebagai pengencer larutan sampel
C. Prosedur Kerja
1. Pengamatan nitrat
a. Pengamatan dilapangan
• Menentukan lokasi pengambilan sampel.
• Mengambil sampel air pada badan air usahakan tidak ada gelembung.
• Agar sampel tidak rusak ditetesi H2SO4 2-3 tetes.
• Melihat kadar pH menggunakan kertas lakmus,
• Tingkatan pH yang dibutuhkan yaitu 2 selanjutnya dianalisis di laboratorium.
b. Pengamatan di laboratorium
• Mengambil sampel nitrat sebanyak 5 ml menggunakan pipet volume dan ruber bulb, kemudian masukkan ke dalam tabung reaksi.
• Tambahkan larutan NaCl 30% sebanyak 1 ml ke dalam sampel nitrat yang berada di tabung reaksi dengan menggunakan pipet volume 1 ml dan rubber bulb.
• Tambahkan larutan H2SO4 sebanyak 5 ml pada sampel menggunakan pipet volume 5 ml dan rubber bulb dan di homogenkan.
• Setelah dihomogenkan ditambahkan larutan Brucine sebanyak 0,25 ml ke dalam sampel nitrat yang telah di homogenkan.
• Selanjutnya larutan dihomogenkan kembali mennggunakan vortex mixer dan dipanaskan menggunakan hot plate sehingga berubah warna menjadi warna ungu muda.
2. Pengamatan fosfat
a. Pengamatan di lapangan
• Menentukan lokasi pengambilan sampel.
• Mengambil sampel air pada badan air usahakan tidak ada gelembung.
• Kemudian disaring menggunakan kertas saring berukuran 42 mikro.
b. Pengamatan di laboratorium
• Mengambil sampel fosfat sebanyak 10 ml dengan menggunakan pipet volume 10 ml dan rubber bulb, dan disimpan di dalam gelas ukur.
• Tambahkan larutan Amonium molibdat sebanyak 5 ml ke dalam sampel fosfat digelas ukur tersebut.
• Kemudian dihimpitkan menggunakan aquades hingga menjadi 25 ml
• Kemudian dibaca gelombang warnanya menggunakan spektrofotometer.
3. Pengamatan suhu
a. Menentukaan lokasi pengamatan.
b. Mengukur suhu menggunakan thermometer.
c. Mencatat hasil penggukuran pada buku.
4. Pengamatan salinitas
a. Menentukan lokasi pengambilan sampel
b. Mengambil sampel air untuk pengukuran salinitas
c. Mengukur salinitas menggunakan Hand refraktometer.
d. Mencatat hasil pengukuran pada buku.
5. Pengamatan kecepataan arus
a. Menentukan lokasi pengamatan.
b. Mengukur kecepatan arus menggunakan layangan arus dan dilihat waktunya menggunakan stopwatch.
c. Mencatat hasil pengukuran pada buku.
D. Analisis Data
1. Nitrat
Diketahui :
Mg nitrat : 5 ml
Mg sampel : 152 ml
Penyelesaian :
n
2. Fosfat
Diketahui :
Mg fosfat : 10 ml
Mg sampel : 152
Penyelesaian :
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Gambaran Umum Lokasi
Gambar 1. Stasiun Pengamatan
(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2022)
Provinsi Sulawesi Tenggara terdiri dari 10 Kabupaten dan 2 Kota dimana Kota Kendari sebagai salah satu Kota yang ada pada Provinsi Sulawesi Tenggara. Kota Kendari secara geografis terletak di jazirah Tenggara Pulau Sulawesi dengan wilayah darat sebagian besar berada di daratan Sulawesi mengelilingi Teluk Kendari dan terdapat satu pulau yaitu pulau Bungkutoko, secara geofrafis terletak dibagian selatan garis khatulistiwa, berada di antara 3054’30” - 403’11” Lintang Selatan dan 122023’ - 122039’ Bujur Timur. Luas Wilayah daratan Kota Kendari adalah 296.000 Km² dengan batas-batas sebagai berikut :
• Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Soropia Kab. Konawe
• Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Kendari
• Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Moramo dan Kecamatan Konda Kab. Konawe Selatan
• Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Ranomeeto Kab. Konawe slatan dan Kecamatan Sampara Kab. Konawe.
2. Hasil Praktek Lapangan
a. Pengamatan Parameter Fisika
Pengamatan parameter lingkungan dapat dilihat pada table berikut:
Tabel 1. Hasil pengamatan parameter fisika
No. Parameter Hasil
1. Kecepatan arus 0,043 m/s
2. Suhu 29°C-32°C
b. Pengamatan Parameter Kimia
Hasil pengamatan kimia dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4. Hasil pengamatan parameter kimia
No. Parameter Hasil
1. Nitrat 0,243
2. Fosfat 0.042
3. Salinitas 34 ppt
4. pH 7
B. Pembahasan
1. Parameter Fisika
a. Kecepatan arus
Berdasarkan hasil pengamatan keseluruhan kualitas air yang dilakukan di perairan Kali Biru Kelurahan Bungkutoko terhadap kecepatan arus. Dari pengamatan parameter fisika yang dilakukan secara langsung dilapangan diperoleh nilai untuk kecepatan arus yaitu 0,043 m/s. hal ini membuktikan bahwa kecepatan arus diperairan sangat di pengaruhi oleh kondisi perairan tersebut, dimana perairan Kali Biru merupakan tipe perairan tertutup. Perairan tertutup adalah perairan yang terhalang oleh daratan atau pulau di depannya atau berupa teluk. Sehingga kekuatan arus dan gelombang akan bekurang ketika sampai di pantai (Parson & Takahashi, 1977).
b. Suhu
Dari hasil pengamatan dilapangan terhadap suhu perairan diperoleh nilai suhu berkisar antara 29ºC-32ºC. Nilai tersebut merupakan kondisi suhu permukaan pada umunya. Menurut Nontji, 2015 menyatakan pada umumnya suhu permukaan berkisar antara 29ºC - 31ºC. Jika dibandingkan antara hasil pengukuran lapangan dengan baku mutu air menurut KepMen LH No.51 suhu air di perairan Kali Biru masih sesuai. Nilai tersebut juga sangat sesuai dengan kegiatan budidaya ikan, dimana kisaran suhu yang sesuai untuk budidaya perikanan, rumput laut maupun tiram berkisar antara 28-32 ºC (Affan, 2011).
Tetapi kondisi suhu dapat berubah karena dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan kegiatan manusia. Barus (2004) menyatakan pola suhu perairan dapat dipengaruhi oleh faktor anthropogen (yang disebabkan oleh aktivitas manusia) seperti limbah panas, yang berasal dari air pendingin pabrik, penggundulan hutan yang menyebabkan hilangnya perlindungan badan air.
2. Parameter Kimia
a. Nitrat
Berdasarkan hasil pengamatan keseluruhan kualitas air yang dilakukan di perairan Kali Biru Kelurahan Bungkutoko terhadap parameter kimia yaitu nitrat. Dari pengamatan yang dilakukan di laboratorium diperoleh nilai nitrat 0,243 mg/L. Menurut Patty (2015) Kementrian Lingkungan Hidup pada tahun 2004 menetapkan standar baku mutu senyawa nitrat untuk biota laut adalah sebesar 0,008 mg/l, kisaran kadar nitrat 0,3-0,9 mg/l cukup untuk pertumbuhan organisme dan jika > 3,5 mg/l dapat membahayakan perairan.
b. Fosfat
Hasil analisa konsentrasi fosfat yang dilakukan di Laboratorium diperoleh nilai fosfat yaitu 0,042 mg/L. Di perairan Kali Biru memiliki nilai kandungan fosfat diatas ambang baku mutu yang telah ditentukan yaitu berdasarkan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH, 2004) tentang Baku Mutu Air Laut, nilai yang masih dapat ditoleransi kadar fosfat untuk biota laut adalah 0,015 mg/L. Hal ini dikarenakan banyaknya kegiatan yang terjadi disekitar Perairan Kali Biru yang juga menjadi tempat wisata rekreasi. Menurut Ferreira et al., (2011), peningkatan nilai fosfat diduga terjadi karena beberapa hal, diantaranya adalah peningkatan fosfat dari batuan secara alami serta peningkatan masukan bahan pencemar yang diterima oleh badan air. Selain itu, peningkatan populasi dan kegiatan manusia pada daerah pesisir pantai dapat menyebabkan peningkatan pasokan fosfat.
c. Salinitas
Berdasarkan pengamatan terhadap salinitas diperairan Kali Biru diperoleh nilai salinitas yaitu 34 ppt. Nilai tersebut cukup tinggi disuatu perairan yang berpengaruh bagi kehidupan organisme khususnya makrobentos. Kisaran salinitas yang masih bisa diloleransi oleh hewan makrobenthos adalah 15 - 30 ppt (Hutabarat & Evans, 1991). Nilai tersebut juga sangat tinggi dan berpengaruh untuk kegiatan budidaya, yang dimana menurut Ernawati (2016), salinitas yang berkisar antara 26-28 ppt sangat optimal untuk budidaya dengan sistem KJA.
Tingginya nilai salinitas disuatu perairan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari lingkungan perairan maupun dari kegiatan manusia. Menurut Mita et al., (2016) menyatakan jika konsentrasi nitrat akan semakin menurun seiring dengan meningkatnya kadar salinitas perairan.
d. pH
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di perairan Kali Biru diperoleh nilai untuk pH yaitu 7. Nilai pH tersebut berada dalam batas yang layak bagi kehidupan organisme perairan yaitu 6,6, - 8,5 (Mann, 1982). Disamping itu, nilai tersebut merupakan nilai yang optimal untuk kegiatan perikanan. Menurut Mayunar et al., (1995) dalam Affan (2012), nilai pH optimal untuk budidaya laut bervariasi tergantung terhadap jenis biota laut yang akan dibudidayakan, misalnya untuk budidaya ikan dibutuhkan pH 6,5-9,0, dan 7,5-8,5 untuk budidaya rumput laut, serta 6,75-9,0 untuk tiram mutiara.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum lapang Manajemen Kualitas Air terhadap parameter fisika dan parameter kimia diperoleh nilai kecepatan arus yaitu 0,043 m/s rendahnya nilai tersebut dikarenakan perairan Kali Biru merupakan perairan tertutup. Suhu yaitu 29ºC-32ºC, yang merupakan kondisi suhu pada umumnya. Konsentrasi nitrat yaitu 0,243 mg/L, nilai tersebut cukup tinggi dari standar baku mutu senyawa nitrat. Nilai fosfat yaitu 0,042 mg/L, nilai ini cukup tinggi dikarenakan banyaknya kegiatan yang terjadi disekitar Perairan Kali Biru yang juga menjadi tempat wisata rekreasi. Salinitas pada perairan Kali Biru yaitu 34 ppt, tingginya nilai salinitas disuatu perairan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari lingkungan perairan maupun dari kegiatan manusia. Nilai pH yaitu 7, yang merupakan nilai optimal yang perairan.
B. Saran
Adapun saran pada praktikum lapang Manajemen Kualitas air adalah diharapkan turut andilnya mahasiswa, asisten dosen maupun dosen mata kuliah dalam kegiatan praktikum.
Komentar
Posting Komentar