Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Air : Hemolimfa

ABSTRAK

     Fisiologi hewan air merupakan cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang fungsi normal tubuh organisme. Dalam hal ini terkhusus pada hewan yang hidup diperairan, baik perairan tawar maupun laut. Hemolimfa merupakan cairan atau darah yang membawa glukosa dan  terdapat juga di avertebrata air seperti kepiting bakau (Scylla serrata). Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui Teknik pengambilan hemolimfa menggunakan “spoit 3 ml” dengan mengamati secara langsung hemolimfa sampel yang berasal dari hewan invertebrata air. Praktikum fisiologi ini dilaksanakan di Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan, Universitas Halu Oleo, Kendari, pada hariJum’at tanggal 20 Mei 2022 pukul 08.00-10.00. Metode pengambilan hemolimfa pada kepiting bakau  (Scylla sp.) dilakukan dengan cara menyuntikans poit keotot diantara sendi-sendi kaki jalan kepiting, kemudian mengidentifikasi cairan hemolimf atersebut.

Kata kunci : Fisologi hewan air, Hemolimfa, Kepiting bakau (Scylla Serrata).


I. PENDAHULUAN

Latar Belakang

            Fisiologi hewan air adalah merupakan salah satu cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang fungsi, mekanisme, dan cara kerja dari organ, jaringan, serta sel-sel dalam tubuh suatu organisme perairan ilmu fisiologi merupakan gabungan berbagai disiplin ilmu, seperti biokimia, genetik, dan immunologi serta terkhusus organisme yang hidup di perairan tawar maupun laut . (burhanuddin, 2019).

            Hemolimfa merupakan cairan atau darah yang membawa glukosa dan  terdapat juga di avertebrata air seperti kepiting bakau (Scylla serrata). Dimana hemolimfa ini berperan sebagai salah satu sumber energi metabolik yang di gunakan untuk keperluan osmoregulasi. Salah satu sumber energi yang digunakan untuk metabolisme berasal dari glukosa, dan pengaturan glukosa merupakan mekanisme fisiologis penting yang dipengaruhi oleh variasi lingkungan (Puji et al., 2015)

Kepiting bakau menjalani sebagian besar hidupnya di ekosistem mangrove dan memanfaatkan ekosistem mangrove sebagai habitat alami utamanya, yakni sebagai tempat berlindung, mencari makan, dan pembesaran. Kepiting bakau melangsungkan perkawinan di perairan hutan mangrove, dan secara berangsur-angsur sesuai dengan perkembangan telurnya, kepiting bakau betina akan beruaya dari perairan hutan mangrove keperairan laut untuk memijah, sedangkan kepiting bakau jantan akan tetap berada di hutan mangrove untuk melanjutkan aktifitas hidupnya. Setelah memijah, kepiting bakau betina akan kembali kehutan mangrove. Demikian pula dengan juvenile kepiting bakau yang akan bermigrasi kehulu estuari, untuk kemudian berangsur-angsur memasuk ihutan mangrove (Hastuti et all., 2019).

              Berdasarkan uraian di atas maka sangat perlu dilakukan praktikum untuk mengetahui teknik pengambilan hemolimfa untuk pengukuran beban kerja osmotik.

Tujuan dan Manfaat

Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui Teknik pengambilan hemolimfa menggunakan “spoit 3 ml” dengan mengamati secara langsung hemolimfa sampel yang berasal dari hewan invertebrata air.

Manfaat dari praktikum ini yaitu mahasiswa dapat mempelajari dan mengetahui Teknik pengambilan cairan hemolimfa untuk beban kerja osmotic serta mampu mengidentifikasinya.

II. METODE PRAKTIKUM

Waktu dan tempat

Praktikum fisiologi ini dilaksanakan pada hari Sabtu 21 Mei 2022 pukul 08.00-10.00 WITA, yang bertempat di Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Halu Oleo Kendari.

 

 

Alat dan bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalahs poit 3 ml 4 unit, jarum suntik 4 unit, dan baki                   (Dissectting-pan) 4 unit, tisu, dan sunlight. Dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini yatu kepiting bakau (Scylla sp.)

Metode Pengamatan

            Praktikum ini dilakukan dengan menggunakan metode percobaan di laboratorium dengan pengamatan secara langsung, dimana pertama-tama praktikan meyiapka alat dan baha n kemudian mengambil spoit dan kepiting bakau (Scylla sp.). Kemudian mengukur berat awal kepiting bakau, Cara memegang kepiting bakau (Scylla sp.) dengan cara seluruh jari menahan tubuh kepiting bakau seolah sedang menggenggam kepiting bakau dimana jari-jari menahan capit dan kaki kepiting agar kepiting tidak melakukan pergerakan. Setelah itu, menempatkan spoit 3 ml yang sudah dipasangi jarum suntik pada bagian diantara sendi-sendi capit, kaki jalan dan kaki dayung kepiting bakau, kemudian Tarik spoit secara perlahan agar cairan hemolimfa dapat terekspos keluar atau sampai terlihat dalam spoit. Kemudian mengamati cairan hemolimfa tersebut dan mendeskripsikan cirinya secara detail.


III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tabel 1. Hemolimfa

Organisme

Tekstur sampel

Warna

Kepiting Bakau

Cair

Putih

Putih Biru Unguan

Kehitam-hitaman

 

Hasil dari pengamatan cairan hemolimfa umumnya berwarna putih bening sampai biru ke ungu-unguan. Ekspresi warna tersebut tergantung pada tingkat stress cairan hemolimfa pada kepiting bakau adalah berwarna gelap kehitam-hitaman, ini menunju bahwa kepiting bakau tersebut mengalami stress terhadap lingkungannya.

 

Pembahasan

            Hemolimfa mengandung komponen yang memenuhi fungsi-fungsi darah atau getah bening. Misalnya, hemolimfa mengandung hemosianin yaitu protein yang mengikatoksigen mirip dengan hemoglobin pada vertebrata. Hemolim merupakan zat/materi yang identic dengan darah sebagai fungsi transport dalam tubuh pada hewan averterbrata, dimana hemolimfa ini hanya terdapat pada organisme verterbrata bentik yang hidup didarat maupun dilaut. Hemolimfa berwarna putih bening sampai biru keungu-unguan. Ekspresi warna tersebut tergantung pada tingkat stress organisme akuatik terhadap lingkungan.

Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan pada kepiting bakau (Scylla. sp) di Laboratorium cairan hemolimfa yang didapatkan berwarna gelap kehitam-hitaman, hal ini dapat didefinisikan bahwa kepiting bakau tersebut mengalami stress karena makin gelap warna cairan hemolimfa berarti tingkat kesetresan kepiting bakau cukup tinggi, hal ini sesuai dengan pernyataan (Hastuti et all., 2019) yang menyatakanbahwa “kadar hemolimfa pada kepiting bakau (Scylla. sp) menggambarkan tingkat stress pada kepiting tersebut, yaitu semakin tinggi kadar glukosa hemolimfa maka tingkat stress  semakin tinggi begitu juga sebaliknya.

IV. PENUTUP

Simpulan

Kepiting bakau (Scyllasp) dalam melakukan proses fisiologinya membutuhkan suatu zat untuk mengangkut substansi-substansi yang dibutuhkan oleh sepertioksigen dan mineral. System peredarandarah pada kepiting bakau (Scylla. sp) adalah system peredaran terbuka. Zat yang berfungsi sebagai pengangkut pada kepiting bakau (Scylla. sp) disebut hemolimfa. Hemolimfa adalah cairan pengganti darah pada kepiting. Cairan hemolimfa umumnya berwarna putih bening sampai biru keungu-unguan. Ekspresi warna tersebut tergantung pada tingkat stress organism akuatik terhadap lingkungan.

 

 

Saran

Adapun saran dalam praktikum fisiologi ini adalah sebaiknya praktikan mengikuti dan menjalankan prosedur kerja praktikum sesuai arahan dari asisten dan mempelajari materi dan penuntun agar praktikum berjalan dengan lancar.

DAFTAR PUSTAKA

Burhanuddin, A. I., 2019, Membangun Sumberdaya Kelautan Indonesia: Gagasan Dan Pemikiran Guru Besar Universitas Hasanuddin, Penerbit IPB Press, 338.

Hastuti, Y. P., Ridwan, A., dan Mafatih, D. S., dan Kurnia, F., dan Wildan, N., 2015, Salinitas Optimum Untuk Pertumbuhan Benih Kepiting Bakau (Scylla Sp) Dalam System Resirkulasi, Jurnal Akuakultur Indonesia. 14(1): 55-57.

Hastuti, Y. P., Ridwan, A., dan Radhita, M., Wildan, N., dan Siska, T., 2019, Suhu Terbaik Untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Benih Kepiting Bakau( ScyllaSp) Di System Resirkulasi, Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. 11(2): 415-116.

Wiwi, E.,2019, Fisiologi Hewan, Daerah Istimewa Yogyakarta: PT. Kanisius, 345.

 

Puji, Y., H., Affandi, R., Devi, M., S., Faturrohman, K., & Nurussalam, W. 2015. Salinitas Optimum Untuk Pertumbuhan Benih Kepiting Bakau Scylla Serrata          Dalam Sistem Resirkulasi. Jurnal Akuakultur Indonesia. Vol 14 (1) : 50-57.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Fisiologi Hewan Air : Moulting